<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Basweidan.com</title>
	<atom:link href="http://basweidan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://basweidan.com</link>
	<description>Blog Abu Hudzaifah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 23:54:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Celaka Karena Salah Berdzikir</title>
		<link>http://basweidan.com/celaka-karena-salah-berdzikir/</link>
		<comments>http://basweidan.com/celaka-karena-salah-berdzikir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 03:07:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[celaka]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mendengar kata ‘dzikir’, terlintas di benak kita sosok orang yang duduk menghadap kiblat, dengan bibir komat-kamit sambil memegang tasbih atau menghitung ruas jari. Kata ‘dzikir’ sering dikonotasikan sebagai ‘wirid’, alias bacaan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, dan semisalnya. Sehingga majelis dzikir pun menjadi identik dengan majelis wirid. Memang, pemahaman di atas tidak mutlak salah;<a class="rmore" href="http://basweidan.com/celaka-karena-salah-berdzikir/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://basweidan.com/wp-content/uploads/2012/04/dzikir1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-865" title="dzikir1" src="http://basweidan.com/wp-content/uploads/2012/04/dzikir1.jpg" alt="" width="640" height="433" /></a>Ketika mendengar kata ‘dzikir’, terlintas di benak kita sosok orang yang duduk menghadap kiblat, dengan bibir komat-kamit sambil memegang tasbih atau menghitung ruas jari. Kata ‘dzikir’ sering dikonotasikan sebagai ‘wirid’, alias bacaan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, dan semisalnya. Sehingga majelis dzikir pun menjadi identik dengan majelis wirid. Memang, pemahaman di atas tidak mutlak salah; namun juga tidak sepenuhnya benar. Berikut ini beberapa hadits tentang fadhilah dzikir dan majelis dzikir yang sering difahami secara keliru.<span id="more-854"></span>Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ<em>Tidaklah sekelompok orang duduk mengingat Allah, melainkan malaikat akan mengitari mereka, rahmat melingkupi mereka, rasa tenteram menyelimuti mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat di sisi-Nya</em>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dalam hadits lainnya, Rasulullah bersabda yg artinya, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang menyusuri jalan-jalan demi mencari ahli dzikir. Bila mereka menjumpai suatu kaum yang sedang berdzikir (mengingat Allah), mereka saling memanggil: “Ayo kesini, apa yang kamu cari ada di sini”, kemudian mereka saling membentangkan sayapnya hingga memenuhi langit dunia. Lalu Allah menanyai mereka -padahal Dia lah yang lebih tahu-: “Apa yg diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?”. Kata para malaikat: “Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memuji-Mu”. “Apakah mereka pernah melihat-Ku?” tanya Allah. “Tidak, demi Allah. Mereka belum pernah melihat-Mu” jawab malaikat. “Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” tanya Allah. “Jika mereka melihat-Mu, pastilah mereka lebih giat lagi dalam beribadah, memuji-Mu, dan menyucikan-Mu” jawab malaikat. “Apa yang mereka minta?” tanya Allah. “Mereka menginginkan Jannah (Surga)” jawab malaikat. “Pernahkah mereka melihatnya?” tanya Allah. “Belum ya Allah” jawab malaikat. “Bagaimana kira-kira jika mereka melihatnya?” tanya Allah. “Mereka pasti lebih bersemangat dan sungguh-sungguh dalam mengejarnya” jawab malaikat. “Lalu mereka mohon perlindungan dari apa?” tanya Allah. “Dari Neraka” jawab malaikat. “Pernahkah mereka melihat Neraka?” tanya Allah. “Belum pernah” jawab malaikat. “Kira-kira bagaimana jika mereka pernah melihatnya?” tanya Allah. “Pastilah mereka semakin lari dan takut darinya” jawab malaikat. Lalu Allah berfirman, “Saksikanlah oleh kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. Salah seorang malaikat menyela, “Namun di antara mereka ada si fulan yang bukan dari mereka (ahli dzikir). Ia sekedar datang ke majelis itu untuk suatu keperluan” lanjutnya. Maka kata Allah, “Siapa yang duduk bersama mereka (ahli dzikir) maka tidak akan celaka”</em>.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Zhahir kedua hadits di atas seakan mendukung praktek dzikir berjama’ah yang marak dilakukan akhir-akhir ini. Akan tetapi, cobalah kita simak terlebih dahulu penjelasan para ulama tentang hadits-hadits di atas… Al Hafizh Badruddien Al ‘Aini mengatakan, bahwa pengertian ‘ahli dzikir’ meliputi orang-orang yang mengerjakan shalat, membaca Al Qur’an, menyampaikan hadits, mengajarkan ilmu-ilmu agama, berdiskusi dengan para ulama, dan semisalnya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Dalam kitab monumentalnya yang berjudul Al Adzkar, Imam Nawawi mengatakan, “Ketahuilah bahwa fadhilah dzikir (mengingat Allah) tak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semisalnya. Bahkan setiap orang yang berbuat taat kepada Allah, berarti ingat kepada Allah. Demikian menurut Sa’id bin Jubeir dan ulama lainnya. Sedangkan Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah mengatakan, “Majelis dzikir adalah majelis yang membahas tentang halal-haram, membahas bagaimana engkau berjual-beli, berpuasa, shalat, menikah, mencerai, berhaji, dan semisalnya”.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Adapun Ash Shan’ani mengatakan, “Dzikir bisa diartikan mengingat Allah secara lisan. Orang yang mengucapkannya akan mendapat pahala. Dalam dzikir tidak disyaratkan harus meresapi makna yang diucapkan, namun syaratnya ia harus bermaksud mengingat Allah. Jika di samping berdzikir secara lisan hatinya juga berdzikir, maka lebih sempurna lagi. Jika setelah itu ditambah pula dengan meresapi makna bacaan dzikir yang meliputi pengagungan terhadap Allah dan penafian sifat-sifat negatif dari-Nya; maka lebih sempurna lagi. Lalu jika hal tersebut dilakukan dalam amalan wajib seperti shalat, jihad, dan semisalnya; maka lebih sempurna lagi…”.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Walaupun kedua hadits di atas menganjurkan kita untuk berkumpul dalam rangka mengingat Allah, akan tetapi tidak boleh difahami sebagai anjuran mengadakan tahlilan, shalawatan, dan dzikir jama’i. Sebab pengertian dzikir jama’i yang marak kita saksikan akhir-akhir ini<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>, adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh para salaf… bahkan dianggap <em>bid’ah dholalah</em>. Simaklah hadits berikut… Salah seorang tabi’in bernama ‘Amru bin Salamah al Hamdani mengisahkan, bahwa Abu Musa Al Asy’ari pernah berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Wahai Abu Abdirrahman, barusan di mesjid kulihat sesuatu yang aneh. Akan tetapi ia sesuatu yang baik, alhamdulillah”. “Apa itu?” tanya Ibnu Mas’ud. “Kamu bisa melihat sendiri nanti” jawab Abu Musa. “Tadi Aku melihat orang-orang dalam beberapa halaqah (kelompok) sedang duduk di mesjid. Sembari menunggu shalat, di masing-masing halaqah ada satu orang yang memimpin mereka, dan masing-masing anggotanya menggenggam kerikil. Orang tersebut lalu berseru, “Ayo takbir seratus kali..” lalu mereka mulai bertakbir. Lalu ia berkata, “Ayo tahlil seratus kali” dan mereka pun bertahlil. Kemudian ia berkata “Ayo tasbih seratus kali” dan mereka pun bertasbih. Lanjut Abu Musa. “Lantas apa yang kau katakan kepada mereka?” tanya Ibnu Mas’ud. “Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa, karena ingin tahu apa pendapatmu” jawab Abu Musa. “Mengapa tidak kau perintahkan agar mereka menghitung kesalahan mereka, dan kau jamin bahwa kebaikan mereka takkan hilang?” tegur Ibnu Mas’ud. Keduanya pun berlalu meneruskan perjalanan, dan kami mengikuti mereka sampai tiba di salah satu halaqah yang dimaksud. Sambil berdiri di hadapan mereka, Ibnu Mas’ud bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” “Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih” jawab mereka. “Hitung saja kesalahan kalian, karena kujamin tidak akan ada kebaikan kalian yang hilang sedikitpun… Celakalah kalian wahai umat Muhammad ! Alangkah cepatnya kalian binasa, padahal para sahabat Rasulullah ada di mana-mana, pakaian Rasulullah belum lusuh, dan bejana beliau belum pecah?! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya; <strong>kemungkinannya hanya dua</strong>: kalian berada di atas ajaran yang lebih benar dari ajaran Muhammad, atau kalian pembuka pintu kesesatan !” lanjut Ibnu Mas’ud. “Wahai Abu Abdirrahman, Demi Allah, kami hanya mencari kebaikan” jawab mereka. “Berapa banyak pencari kebaikan yang tidak pernah mendapatkannya” tukas Ibnu Mas’ud. “Rasulullah pernah bercerita kepada kami bahwa ada suatu kaum yang gemar membaca Al Qur’an namun tidak melebihi tulang selangka mereka. Demi Allah, boleh jadi mayoritas dari mereka adalah kalian” lanjut Ibnu Mas’ud seraya meninggalkan mereka. ‘Amru bin Salamah -perawi kisah ini- lantas berkata, “Sungguh, aku melihat kebanyakan dari mereka akhirnya bersama kaum khawarij melawan kami di perang Nahrawan”.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> Dari hadits di atas, jelaslah bahwa mengadakan majelis dzikir seperti yang sering kita lihat di televisi adalah bid’ah dholalah menurut Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Sikap beliau tadi juga dibenarkan oleh sahabat lainnya, yaitu Abu Musa Al Asy’ari. walaupun sepintas mereka sekedar membaca takbir, tahlil, tasbih, dan semisalnya -dan semuanya adalah ucapan mulia-, akan tetapi tata cara yang mereka lakukan tadi sama sekali tidak dikenal oleh para sahabat. Alasan mereka yang ‘sekedar menghendaki kebaikan’ juga ditolak mentah-mentah oleh Ibnu Mas’ud, sebab untuk mendapat kebaikan kita tidak boleh menghalalkan segala cara, namun harus bertolak dari Rasulullah dan praktek para sahabat. Hadits ini mengingatkan kita akan bahaya bid’ah yang sepintas nampak ringan… namun lama kelamaan menyeret pelakunya ke bid’ah lain yang lebih parah. Mereka yang mulanya ‘hanya’ senang ‘tahlilan’, ujung-ujungnya menjadi khawarij yang memerangi kaum muslimin! Demikianlah tipu daya syaithan terhadap ahli ibadah yang ikhlas namun jahil… Dalam beribadah, keikhlasan tidaklah cukup, namun harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah. Bacaan tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid yang demikian besar pahalanya di sisi Allah, bisa menjadi bencana bagi pelakunya jika diamalkan tanpa mengikuti ‘aturan main’. Melakukan dzikir secara koor adalah bid’ah. Mengangkat suara dalam dzikir juga salah<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>. Membaca lafazh tertentu yang diulang-ulang dalam jumlah tertentu tanpa dalil, adalah perbuatan yang menyelisihi Sunnah. Maka dari itu, waspadalah !!</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no 2700.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari no 6045, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat: ‘Umdatul Qaari 33/165. Pendapat beliau ini didukung oleh Al Qur’an yang menggunakan istilah ‘ahli dzikir’ ketika berbicara tentang orang yang berilmu. Lihat: QS An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Al-Adzkar hal 38.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat: Subulus Salam 4/214.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Yaitu dengan berkumpul di suatu tempat, lalu membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan sebagainya secara serempak atas komando seorang ustadz/kyai. Seperti majelis dzikir Sdr. M. Arifin Ilham dan semisalnya.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Darimi no 211 dengan sanad yang hasan (lihat: Silsilah Ash Shahihah no 2005).</div>
<div><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat QS. Al A’raf: 55 &amp; 205. Ini merupakan adab dzikir secara umum, kecuali pada saat talbiyah dan takbir hari raya, maka bagi laki-laki disunnahkan untuk menjahr-kan suaranya, sedangkan wanita tetap mengucapkannya dengan sirr. Demikian pula saat membaca wirid selepas shalat 5 waktu, maka ada sebagian ulama yang menganggapnya sunnah untuk dijahr-kan tanpa koor (bagi laki-laki), karena mengamalkan zhahir hadits Ibnu Abbas terkait masalah ini. Namun ada pula yg berpendapat sebaliknya. Ala kulli haal, kasus terakhir ini termasuk masalah ijtihadiyyah yang harus kita sikapi secara ilmiah dan toleran, wallahu a&#8217;lam.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/celaka-karena-salah-berdzikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Masjid Al Khaif Kuburan 70 Nabi ?!</title>
		<link>http://basweidan.com/827/</link>
		<comments>http://basweidan.com/827/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 18:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum&#8230; Ustadz, ada yang membuat saya penasaran. Apakah riwayat yang menyatakan bahwa Masjid Khaif adalah tempat kuburan 70 orang nabi itu benar/shahih? Berikut riwayatnya Al-Bazzaar rahimahullah berkata, حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُسْتَمِرِّ الْعُرُوقِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَبَّبٍ أَبُو هَمَّامٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ<a class="rmore" href="http://basweidan.com/827/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Pertanyaan:</p>
<p style="text-align: left;">Assalamu&#8217;alaikum&#8230; Ustadz, ada yang membuat saya penasaran. Apakah riwayat yang menyatakan bahwa Masjid Khaif adalah tempat kuburan 70 orang nabi itu benar/shahih? Berikut riwayatnya Al-Bazzaar rahimahullah berkata,</p>
<p style="text-align: left;">حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُسْتَمِرِّ الْعُرُوقِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَبَّبٍ أَبُو هَمَّامٍ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ قُبِرَ سَبْعُونَ نَبِيًّا</p>
<p style="text-align: left;">Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Mustamir Al-‘Uruuqiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhabbab Abu Hammaam : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Thahmaan, dari Manshuur, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Di masjid Khaif, telah dikubur tujuhpuluh orang Nabi” [Kasyful-Astaar no. 1174]. Kalau memang shahih, berarti bisa dijadikan dalil untuk mendukung pembangunan masjid di atas kuburan? Mohon penjelasannya dari syubhat tersebut.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-827"></span></p>
<p style="text-align: left;">JAWAB:</p>
<p style="text-align: left;">Wa&#8217;alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, hadits tersebut <em>infarada bihi</em> Ibrahim bin Thahman, alias hanya diriwayatkan dari jalurnya. Sedangkan ia adalah perawi yang walaupun dianggap <em>tsiqah</em> oleh mayoritas ahli hadits, akan tetapi ada sebagian ahli hadits yg mempermasalahkan sebagian riwayatnya. Oleh karenanya, Ibnu Hajar menyatakannya sebagai perawi <em>tsiqah</em> yang suka meriwayatkan hadits-hadits <em>gharib</em>, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">الثقات لابن حبان (6/ 27) أمره مشتبه, له مدخل في الثقات ومدخل في الضعفاء, وقد روى أحاديث مستقيمة تشبه أحاديث الأثبات, وقد تفرد عن الثقات بأشياء معضلات</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>(Ibrahim bin Thahman ini) perkaranya tidak jelas. Dia berpotensi untuk digolongkan sebagai perawi tsiqah, namun juga berpotensi untuk digolongkan dalam perawi dhaif. Ia meriwayatkan sejumlah hadits yang mustaqim (benar), yang mirip dengan haditsnya orang-orang tsiqah; namun terkadang meriwayatkan beberapa hal yang kacau dari perawi-perawi yang tsiqah, tanpa ada yang menyertainya dalam periwayatan hal-hal tersebut</em>&#8220;. Saya katakan: Ini menunjukkan bahwa hadits Ibrahim bin Thahman ini tidak bisa diterima begitu saja, apalagi bila matannya terkesan &#8216;aneh&#8217; seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, kalaupun kita anggap hadits ini shahih sanadnya, maka matannya munkar, sebab:</p>
<p style="text-align: left;">1. Kita tahu bahwa Nabi melarang umatnya untuk melangkahi kuburan, atau duduk di atas kuburan; <em>nah</em> kalaulah benar bahwa di Masjid Khaif ini terdapat kuburan 70 Nabi, berarti telah ada ratusan ribu bahkan jutaan orang yang telah menodai kuburan tersebut dengan melangkahinya, menginjak-injaknya, dan duduk di atasnya&#8230; Nah, mungkinkah Nabi membiarkan hal tersebut? Padahal dalam hadits disebutkan:</p>
<p style="text-align: left;">نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Nabi shallallaahu alaihi wa sallam melarang untuk menggamping kuburan, duduk di atasnya, atau mendirikan bangunan di atasnya.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: left;">2. Jika kita perhatikan kitab-kitab yang bercerita tentang sejarah Mekkah, maka kita tidak mendapati bahwa ke 70 kuburan tadi memiliki ciri-ciri yang jelas, yang menunjukkan bahwa itu adalah kuburan. Ini menunjukkan bahwa kalaupun benar di lokasi tersebut terdapat kuburan 70 Nabi, maka semua kuburan tadi telah kehilangan ciri-cirinya dan tak terdeteksi lagi, sehingga otomatis setiap hukum yang terkait dengannya pun tidak berlaku. Jadi, harap dibedakan antara kuburan yang masih tampak sebagai kuburan, dengan suatu lokasi yang &#8216;diklaim&#8217; sebagai kuburan namun tidak ada bagian tertentu yang mirip sebagai kuburan. Sebab, hukum-hukum <em>syar&#8217;i</em> dikaitkan dengan sesuatu yang zhahir dan riil, bukan dengan sesuatu yang batin.</p>
<p style="text-align: left;">3. Istilah &#8216;masjid&#8217; dalam bahasa Arab tidak harus berlaku pada bangunan masjid, namun semua tempat sujud sah-sah saja dinamakan &#8216;masjid&#8217;. Bukankah dalam hadits shahih Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: left;">جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Bumi (tanah) dijadikan sebagai masjid (tempat sujud/shalat) bagiku, sekaligus sebagai media bersuci (tayammum)</em>.&#8221; Nah, apakah masjid di sini adalah masjid yang memiliki tembok dan atap, ataukah sekadar tempat shalat? Demikian pula dalam hadits yang antum tanyakan, bila Nabi mengatakan bahwa ada 70 kuburan Nabi di Masjid Khaif, maka jangan dibayangkan bahwa sejak dahulu di tempat itu sudah terdapat bangunan mesjid yang mentereng seperti sekarang&#8230; sebab boleh jadi yang dimaksud masjid sekadar tempat shalat/lapangan tanpa memiliki bangunan.</p>
<p style="text-align: left;">4. Hadits tersebut sama sekali tidak mengatakan bahwa kita boleh membangun masjid di atas kuburan.</p>
<p style="text-align: left;">5. Kalaupun hadits tersebut dipahami sebagai &#8216;isyarat&#8217; akan bolehnya membangun masjid di atas kuburan, maka kita mendapatkan dalil yang &#8216;tegas-tegas&#8217; dan &#8216;gamblang&#8217;, yang melarang membangun masjid di atas kuburan. Haditsnya <em>muttafaq &#8216;alaih</em> sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p style="text-align: left;"><em>Aisyah meriwayatkan bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah pernah bercerita tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah, yang terdapat di dalamnya lukisan-lukisan. Mendengar hal tersebut, Nabi berkata, &#8220;Mereka (orang-orang Nashara) itu, bila ada orang shalih di antara mereka yang mati, maka mereka membangun masjid (rumah ibadah) di atas kuburnya, dan membikin lukisan-lukisan tersebut. Merekalah sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari kiamat nanti&#8221;</em>. <em></em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Nah</em>, hadits yang demikian gamblang dan shahih ini tidak mungkin kita abaikan karena adanya hadits yg memberi &#8216;isyarat&#8217; bolehnya membangun masjid di atas kuburan&#8230; Apalagi jika hadits tersebut keabsahannya masih diragukan.</p>
<p style="text-align: left;">6. Kalaulah apa yang mereka simpulkan tersebut kita anggap benar, yakni kita boleh membangun masjid di atas kuburan karena adanya masjid Khaif yang dikubur di sana 70 Nabi; maka hal ini telah dihapus oleh sabda Nabi saat beliau<em> sakaratul maut</em>, yaitu:</p>
<p style="text-align: left;">صحيح مسلم &#8211; عبد الباقي (1/ 376) عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم * في مرضه الذي لم يقم منه لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد قالت فلولا ذاك أبرز قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا</p>
<p style="text-align: left;"><em>Dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha, katanya: Nabi shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sakit menjelang kematiannya, &#8220;Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid&#8221;. Kata Aisyah: &#8220;Kalaulah bukan karena alasan ini, niscaya kuburan beliau ditampakkan di muka umum, akan tetapi beliau khawatir jika kelak dijadikan sebagai mesjid&#8221;. Muttafaq &#8216;Alaih.</em></p>
<p style="text-align: left;">Jadi, alasan dikuburnya beliau di dalam rumah, bukan di tempat terbuka, ialah supaya kuburan beliau tidak dijadikan tempat shalat. Nah, kalau sesaat sebelum ruh beliau dicabut beliau mengatakan hal seperti ini, maka mungkinkah orang berakal meninggalkan sabda beliau yang terang benderang laksana matahari di siang bolong tadi, lalu beralih kepada hadits-hadits yang tidak jelas keshahihannya, kemudian menarik kesimpulan yang bertentangan 180 derajat dengan sabda terakhir beliau tadi? Jawabnya: TIDAK MUNGKIN bin MUSTAHIL, kecuali bagi orang yang berpenyakit dalam hatinya dan memperturutkan hawa nafsu.</p>
<p style="text-align: left;">Dijawab oleh Ustadz Abu Hudzaifah, Lc., M.A.</p>
<p style="text-align: left;">Artikel www.basweidan.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/827/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</title>
		<link>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5/</link>
		<comments>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 14:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah syar'iyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 6 Makar Allah terhadap Penguasa Zhalim Betapapun kuat seorang diktator, bila Allah menghendaki kejatuhannya, maka ia akan jatuh dengan cara yang tak terduga sama sekali. Demikianlah sunnatullah terhadap para penguasa lalim. Mereka dihinakan oleh orang-orang terdekatnya, dan tumbang akibat kesalahan mereka sendiri. Ingatkah kita dengan kisah Fir’aun yang menindas Bani Israel sekian lamanya? Ia<a class="rmore" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Pelajaran 6</strong></p>
<p align="center"><strong>Makar Allah terhadap Penguasa Zhalim</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="https://encrypted-tbn0.google.com/images?q=tbn:ANd9GcQvLslWbvTyKvcVQVLKFQxa-9WzEkUfNvsMVvm52edOMsupZYLZ" alt="" width="259" height="194" />Betapapun kuat seorang diktator, bila Allah menghendaki kejatuhannya, maka ia akan jatuh dengan cara yang tak terduga sama sekali. Demikianlah sunnatullah terhadap para penguasa lalim. Mereka dihinakan oleh orang-orang terdekatnya, dan tumbang akibat kesalahan mereka sendiri.</p>
<p>Ingatkah kita dengan kisah Fir’aun yang menindas Bani Israel sekian lamanya? Ia menyembelih setiap bayi laki-laki dari Bani Israel, dan memperbudak mereka. Akan tetapi akhirnya ia binasa di tangan anak asuhnya sendiri.</p>
<p>Benar. Ia yang selama ini membantai setiap bayi lelaki Bani Israel, ternyata justru memelihara Nabi Musa yang kelak menjadi seteru utamanya. Ibunda Nabi Musa demikian khawatir bila bayinya sampai jatuh ke tangan mata-mata Fir’aun, lalu harus berakhir hidupnya demikian singkat.</p>
<p>Akan tetapi, Allah memiliki skenario lain. Tak ada tempat yang lebih aman bagi si Bayi di negeri Mesir, melebihi istana Fir’aun sendiri. Karenanya, dengan cara yang luar biasa, Allah mengirim bayi tersebut hingga sampai ke tangan Fir’aun.<span id="more-824"></span></p>
<p>Yang lebih hebat lagi, Fir’aun yang selama ini demikian bengis terhadap bayi-bayi tak berdosa, kini harus disibukkan oleh bayi yang kelak akan menumbangkan kekuasaannya. Musa kecil menolak setiap wanita yang disuruh menyusuinya. <em>“Kami haramkan atasnya (Musa) semua puting susu sebelum itu, maka saudarinya berkata, “Maukah kalian kutunjukkan sebuah keluarga yang bisa mengasuh dan memeliharanya dengan baik? Maka kami kembalikan ia (Musa) kepada ibunya agar ia menjadi tenteram dan tidak bersedih…” (Al Qasas: 12-13).</em></p>
<p><em>Subhaanallaah</em>. Musa sengaja dijadikan oleh Allah agar tak mau disusui oleh siapa pun selain ibu kandungnya. Akhirnya, sang ibunda yang awalnya demikian sedih dan cemas tatkala harus menaruhnya di sebuah peti, lalu melepaskannya di sungai Nil, kini merasa tenteram karena bersua dengan puteranya. Bahkan ia bisa mengasuh bayinya dengan leluasa karena semua biaya perawatan telah ditanggung. Oleh siapa? Oleh orang yang kelak demikian memusuhinya, yaitu Fir’aun ! <em>“Kami hendak menunjukkan kepada Fir’aun, Haman, dan bala tentara mereka apa yang selama ini mereka takutkan dari Bani Israel”</em> (Al Qasas: 6). Artinya, Allah hendak menunjukkan kepada orang-orang zhalim tersebut, bahwa apa yang selama ini mereka cemaskan berupa lenyapnya kekuasaan dan terbunuhnya mereka di tangan Bani Israel, benar-benar akan terjadi.</p>
<p>Namun lihatlah bagaimana tipu daya Allah terhadap mereka. Semua bayi yang dianggap tersangka penumbang kekuasaan Fir’aun mereka bunuh, namun pelaku sebenarnya justru mereka pelihara. <em>“Mereka membuat tipu daya sedangkan Allah juga membuat tipu daya, dan Allah-lah sebaik-baik pembuat tipu daya”</em>.</p>
<p>Si Tiran Bourgiba sengaja mengangkat Ben Ali sebagai orang dekatnya. Ia jauh-jauh mendatangkannya dari Polandia untuk kemudian mengkudeta dirinya. Fir’aun Mesir sengaja memelihara bayi Musa setelah membunuh ribuan bayi laki-laki Bani Israel. Namun bagaimana kesudahannya? Justru Fir’aun tenggelam akibat ketukan tongkat Musa ‘alaihissalaam, mantan anak asuhnya sendiri. <em>“Allah menurunkan adzab kepada mereka dari arah yang tak mereka duga sama sekali”</em> (Al Hasyr: 2).</p>
<p>Gaddafi yang selama ini mencap rakyatnya sebagai tikus-tikus gurun, dan bersumpah hendak membersihkan bumi Libya dari para pemberontak jengkal demi jengkal, dan rumah demi rumah… akhirnya justru tertangkap berlindung dalam selokan bak seekor tikus got ! Sambil diseret-seret, ia menerima cacian dan umpatan serta tamparan dari mereka yang selama ini disebutnya sebagai ‘tikus-tikus gurun’.</p>
<p>Satu persatu dari orang-orang dekatnya pun berlepas diri darinya. Mereka yang dahulu adalah kawan setia berbalik menjadi lawan utama. Mengapa? Sebab mereka telah menjadi target amuk massa dan sasaran para demonstran yang murka, akibat keterkaitan mereka dengan para diktator yang sekarat tersebut. Mereka akan menjadi sekutunya dalam penderitaan, setelah sebelumnya menjadi sekutunya dalam kenikmatan.</p>
<p>Sungguh aneh ketika mendengar statemen-statemen para pemimpin Liga Arab, yang menyerukan agar Ben Ali mengapresiasi keinginan rakyatnya… tapi mengapa mereka tidak mengapresiasi keinginan rakyat Tunisia kecuali setelah rezim Ben Ali di ambang keruntuhan? Padahal selama hampir seperempat abad ia menerapkan berbagai tindak represif dan terror atas warganya, dan selama itu pula ia selalu mendapat sambutan dan penghormatan oleh mereka?! Mengapa mereka tidak sadar akan nasib rakyatnya masing-masing, agar rakyat tidak murka dan memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan rakyat Tunisia terhadap penguasanya?!!</p>
<p>Kalaulah kehinaan tersebut menjerat si diktator saat perabuannya dilengserkan di dunia, dan semua orang berbalik menjadi musuhnya… lantas bagaimana kehinaan yang menantinya di akhirat kelak? Alangkah dahsyat dan mengerikan peristiwa hisab yang harus dilaluinya, dan setelah itu berbagai siksa pedih datang menyambutnya silih berganti…</p>
<p>Bagaimana kiranya saat ia menyaksikan antrian orang-orang yang selama ini dizhaliminya, dan masing-masing menuntut hukuman qisas atasnya… Ya Allah, sungguh mengerikan! Siapa yang mengingat momen tersebut, niscaya lisannya takkan berhenti beristighfar dan menyadari betapa berat pengadilan akhirat itu. <em>“Kelak kamu akan melihat betapa tunduk dan hinanya orang-orang zhalim itu saat dihadapkan kepada Neraka. Mereka melirik Neraka tadi dengan hati kecut dan penuh rasa takut. (Tatkala menyaksikan kondisi mereka) orang-orang yang beriman mengatakan, Sesungguhnya yang benar-benar rugi adalah mereka yang merugi diri dan keluarganya pada hari kiamat. Sungguh, orang-orang yang zhalim itu benar-benar berada pada siksaan yang abadi”</em> (Asy Syura: 45). Andai bukan karena lemahnya iman dan tingginya tingkat kelalaian, niscaya tak seorang mukmin pun yang tertarik pada kekuasaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</title>
		<link>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/</link>
		<comments>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 14:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah syar'iyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 4 Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1] Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia. Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat,<a class="rmore" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Pelajaran 4</strong></p>
<p align="center"><strong>Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p><img class="alignleft" style="border: 4px solid white;" src="https://encrypted-tbn1.google.com/images?q=tbn:ANd9GcS9kIp5d4n4jELAkg5av-iQr220SSLn-5QcLFzULlxOu8hH1p1t" alt="" width="227" height="222" />Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia.</p>
<p>Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, dengan merevolusi syariat Islam. Melalui majalah <em>al-Ahwaal asy-Syakhsiyyah</em>, ia membatalkan sejumlah hukum syar’i yang baku. Yang paling terkenal di antaranya ialah larangan berpoligami. Poligami dianggap sebagai tindak kriminal, sedangkan pelacuran dibolehkan dan bahkan dilindungi undang-undang !!</p>
<p>Ketika pemerintah Tunisia menaikkan harga roti tahun 1984, terjadilah ‘revolusi roti’. Bourgiba memanggil pulang dubes-nya di Warsawa-Polandia, yang bernama Zein el-Ebidin Ben Ali. Ben Ali diangkat sebagai Kepala keamanan nasional, lalu menjadi Mendagri, dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri tahun 1987, hingga akhirnya mengkudeta Bourgiba sebulan kemudian!<span id="more-813"></span></p>
<p>Saya masih ingat bahwa di awal kekuasaannya, Ben Ali sering menyiarkan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, melalui televisi Tunisia. Orang-orang yang tidak mengenalnya pun menyambut hangat ‘kebijakan’ ini, dan menganggapnya sebagai ‘pengganti baik’ sang diktator Bourgiba.</p>
<p>Ketika itu, kami masih mahasiswa. Ada seorang kyai sepuh yang demikian faham akan muslihat para tiran berkata, “Jangan terpedaya olehnya (Ben Ali), sebab dia ciptaan Prancis. Ia akan menjadi seperti pendahulunya kalau tidak lebih jahat”. Ternyata, dugaan pak Kyai tadi benar.</p>
<p>Sang diktator terus melenggang dengan segala kezhaliman dan kesewenang-wenangannya selama 23 tahun. Ia terus-menerus memerangi Islam, berlaku otoriter, dan mencekik rakyatnya.</p>
<p>Pada hari Jumat 11 Muharram 1432, seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi nekat membakar dirinya. Ia melakukan hal tersebut karena kesal setelah gerobak sayurnya disita aparat. Bouazizi yang menjadi pengangguran dan tak lagi mampu menafkahi keluarga, juga menerima tamparan dari seorang polisi wanita di depan umum. Tak ada seorang pun yang membelanya ketika itu. Tak lama berselang, ia pun wafat akibat luka bakarnya pada tanggal 29 Muharram.</p>
<p>Keesokan harinya, meletuslah sejumlah demonstrasi yang merayap bak api dalam sekam ke seantero Tunisia, yang kemudian menjadi revolusi nasional. Pasukan diturunkan atas perintah Sang Diktator agar memberangus dan membantai para demonstran. Akan tetapi, pasukan justru mengkhianatinya, dan berbalik melindungi rakyat dari oknum-oknum militer pendukung presiden.</p>
<p>Ben Ali pun kabur setelah keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Pemerintahan akhirnya dipegang oleh PM Mohamed Ghannouchi, sebagai presiden sementara. Ia mengumumkan kondisi darurat, memberlakukan jam malam sejak pukul 5 sore hingga 7 pagi, dan melarang berkumpulnya tiga orang atau lebih secara mutlak.</p>
<p>Singkat cerita, di penghujung tahun 2011, terpilihlah Moncef Marzouki sebagai presiden Tunisia ke-4. Presiden yang berlatar belakang dokter ini memang terkenal sebagai pejuang HAM. Akan tetapi sayang, dalam pidato kepresidenannya, ia memuji keberhasilan Bourgiba dkk. sebagai peletak asas-asas pemerintahan modern, dan memuji keberhasilannya dalam pemerataan pendidikan, <strong>pembebasan kaum wanita</strong>, dan perbaikan taraf hidup rakyat Tunisia.</p>
<p>Sayang sekali… kepergian Ben Ali ternyata digantikan oleh orang yang berhaluan sekuler seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, takdir Allah pasti terjadi… dan pasti mengandung hikmah dan pelajaran di baliknya.</p>
<p><strong>Rakyat tak bisa dipaksa untuk fakir dan kafir sekaligus</strong></p>
<p>Salah satu pelajaran penting dari peristiwa ini adalah, ketika rakyat dipaksa untuk menjadi kafir dan fakir sekaligus; mereka pasti memberontak kepada penguasa. Rakyat mungkin saja ‘sabar’ untuk dijauhkan dari agama selama dunianya terjamin. Atau dijauhkan dari dunia selama agamanya terpelihara. Namun ketika keduanya dirampas, maka mustahil ia tinggal diam…</p>
<p>Ketika revolusi Prancis berhasil merampas pengaruh agama Nasrani dalam kehidupan warganya, ia mengganti mereka dengan kemakmuran dunia, sehingga rakyat Eropa pun ‘puas’ dan ‘reda’. Andai saja revolusi tersebut tidak menjamin kemakmuran dunia mereka, pastilah mereka memberontak lagi… sebab manusia tidak akan sabar jika kehilangan agama dan dunianya sekaligus.</p>
<p>Akan tetapi, banyak penguasa kaum muslimin yang mempertaruhkan kesejahteraan rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memberi berbagai kemudahan kepada perusahaan asing untuk menggerogoti kekayaan bangsa dan negara. Lihatlah bagaimana para pemimpin menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyatnya… Dengan dalih kerjasama, tak sedikit aset negara yang mereka jual kepada para investor. Tak cukup sampai di situ, pemerintah bahkan membuka perdagangan bebas, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar lokal. Akibatnya, produk-produk lokal pun tak laku. Seperti kata pepatah, sudah jatuh terhimpit tangga pula. Para pengrajin yang <em>ngos-ngosan</em> mencari sesuap nasi, kini terancam jadi pengangguran. Mereka merasa terjajah di negeri sendiri, dan ironisnya: oleh bangsa sendiri.</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa saja bersabar menghadapi himpitan ekonomi, selama agama mereka tak dinodai. Mereka yakin, bahwa walaupun hidupnya serba susah ketika di dunia, toh Allah menjanjikan surga bagi mereka di akhirat nanti. Namun jika agama mereka dinodai, lalu kekayaan mereka dirampas… maka apa fungsinya keberadaan penguasa? Yang akan muncul hanyalah revolusi dan amuk massa, persis seperti yang terjadi di Tunisia.</p>
<p>Karenanya, gerakan <em>Sepilis</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a> yang didukung oleh AS dan Eropa di negara-negara mayoritas muslim, harus diwaspadai. Selama ini, mereka demikian leluasa menyebarkan pemikiran busuknya lewat berbagai media massa. Dan lagi-lagi, pemerintah terkesan mendiamkan, atau bahkan merestui.</p>
<p>Para aktivis <em>Sepilis</em> sedikitpun tidak pernah memikirkan nasib rakyat. Bahkan nasib penguasa pun mereka pertaruhkan demi menyukseskan program jahat sang majikan. Mereka ibarat anjing peliharaan yang menggonggong demi kepentingan tuannya, dan bahkan siap mati demi yang memberi makan. Hal ini terbukti ketika Ben Ali yang selama ini berkhidmat demi kepentingan Prancis, justru ditolak untuk melarikan diri ke Prancis setelah terguling.</p>
<p>Prancis sama sekali tak mau menerima Ben Ali yang selama 23 tahun menjadi tangan kanannya dalam mensekulerkan rakyat Tunisia. Subhaanallaah, alangkah hinanya anjing-anjing tersebut di mata tuannya ! Ben Ali yang selama ini berjuang memberangus semua atribut Islam, mulai dari jenggot, jilbab, poligami, hingga adzan; ternyata tak mendapat tempat aman untuk berlindung dari amukan rakyatnya… tidak di Eropa, tidak pula di Amerika… namun justru di negara yang menerapkan syariat Islam yang selama ini dimusuhinya, dan itu pun dengan syarat-syarat ketat.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disadur dari artikel berjudul (سقط طاغوت تونس.. فهل يعتبر كل طاغوت!؟) oleh Ibrahim bin Muhammad Al Haqiel, dengan banyak perombakan. Beberapa pelajaran selanjutnya juga diilhami dari artikel ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Singkatan dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</title>
		<link>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/</link>
		<comments>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 04:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah syar'iyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 3 Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &#38; Bencana Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak<a class="rmore" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><img class="alignnone" src="http://store2.up-00.com/Feb11/F9a30287.jpg" alt="" width="476" height="360" /></strong></p>
<p align="center"><strong>Pelajaran 3</strong></p>
<p align="center"><strong>Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &amp; Bencana</strong></p>
<p>Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak asing di telinga kita. Beliau lah ulama yang digelari oleh Syaikh Al Albani -<em>rahimahullah</em>- sebagai <em>faqiehuz zamaan</em>, alias ahli fiqih zaman ini. Beliaulah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -<em>rahimahullah</em>-.<span id="more-700"></span></p>
<p>Ada yang bertanya kepada beliau: “Kalau penguasanya tidak berhukum dengan syariat Allah, lalu ia membolehkan sebagian kalangan untuk melakukan unjuk rasa independen berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh si penguasa, kemudian mereka (para demonstran) melakukannya; kemudian bila ada yang mengingkari perbuatan mereka, mereka mengatakan: “Kami tidak melawan penguasa, dan apa yang kami lakukan selaras dengan pendapat penguasa”. Apakah hal tersebut dibolehkan secara syar’i jika mengandung hal-hal yang bertentangan dengan nas (dalil)?</p>
<p>Jawab beliau, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kalau lah ada yang mengatakan bahwa fatwa ini tidak berlaku bagi demonstrasi damai, maka jawabnya ialah bahwa walaupun demonstrasi itu awalnya damai, namun sering berujung pada kekerasan dan tindak anarkis. Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando… mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.</p>
<p>Revolusi Tunisia awalnya sekedar unjuk rasa akibat meroketnya harga sembako dan solidaritas terhadap Bouazizi yang membakar dirinya. Akan tetapi, unjuk rasa hari itu berujung pada baku hantam antara aparat dan ratusan pengunjuk rasa, penangkapan puluhan demonstran, dan pengrusakan sejumlah fasilitas umum. Kemudian berakhir setelah menyisakan 219 korban tewas.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Revolusi Mesir sampai hari ini belum benar-benar berakhir. Menurut amnesty internasional, jumlah korban tewas sejak meletusnya revolusi tanggal 25 Januari 2011, minimal mencapai 840 orang<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>. Dan sampai hari ini aksi demonstrasi masih terus terjadi dan terus menelan korban jiwa.</p>
<p>Yang lebih parah lagi adalah revolusi Libya. Jenderal Abdul Mun’im Al Hauny selaku wakil Majelis Peralihan Nasional Libya di Kairo, pernah menyatakan bahwa revolusi melawan Gaddafi telah menelan korban 35 ribu orang tewas, puluhan ribu orang luka-luka, dan kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum lebih dari 240 milyar Dollar! Hal ini beliau jelaskan dalam wawancara dengan harian <em>Al Masry Al Youm</em> tanggal 11 Agustus 2011. Artinya, saat itu Gaddafi belum benar-benar terguling, sebab ia baru terbunuh tanggal 20 Oktober 2011.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Belum lagi dengan Revolusi Yaman dan Suriah. Semuanya membuktikan bahwa demonstrasi = awal berbagai kekacauan dan bencana. Demonstrasi dan unjuk rasa, termasuk bentuk <em>khuruj</em>, alias pemberontakan terhadap penguasa<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>. Kalau penguasa tersebut seorang muslim, maka tindakan ini jelas haram secara syar’i. Simaklah hadits berikut yang sarat dengan pelajaran berharga…</p>
<p>Abdurrahman bin Abdirabbil Ka’bah menceritakan, “Aku pernah masuk ke masjidil haram dan kudapati Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash sedang duduk di balik bayang-bayang Ka’bah, sedangkan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Aku pun menghampiri mereka dan duduk di dekatnya. Ia lantas bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu safar. Kami singgah di sebuah tempat, lalu di antara kami ada yang membenahi tenda, ada yang bermain panah, dan ada yang mengawasi hewan tunggangannya. Tiba-tiba pesuruh Rasulullah memanggil kami untuk shalat berjama’ah. Maka kami segera mendatangi Rasulullah untuk shalat, lalu selepas shalat beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم، وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها، وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضا، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه؛ فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه، ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر.</p>
<p><em>Tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan ia wajib membimbing umatnya kepada sesuatu yang paling baik bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari sesuatu yang paling buruk untuk mereka. Sesungguhnya keselamatan umat ini dijadikan bagi generasi awalnya, sedangkan generasi akhirnya akan terkena berbagai bala dan perkara yang kalian ingkari. Fitnah pun datang melanda, dan sebagian fitnah seakan meringankan fitnah lainnya. Lalu datanglah fitnah besar, hingga orang beriman mengatakan bahwa inilah kebinasaannya; lalu fitnah tersebut berakhir. Kemudian datang fitnah yang lebih besar lagi, maka si mukmin berkata: “Ini dia… ini dia”. Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan Surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir; dan hendaklah memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang ia sukai bagi dirinya sendiri. <strong>Barangsiapa telah membaiat seorang pemimpin dengan tulus ikhlas, maka hendaklah ia taat kepadanya selagi mampu</strong>. Bila ada orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, maka bunuhlah orang lain tersebut”.</em></p>
<p>Maka kudekati beliau dan kukatakan, “Kusumpah engkau demi Allah. Benarkah ini semua kau dengar dari Rasulullah?” tanya Abdurrahman. Maka ia menunjuk kedua telinga dan dadanya, seraya berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku, dan memahaminya dengan hatiku”. Jawab Abdullah bin ‘Amru.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan sepupumu Mu’awiyah yang menyuruh kami agar memakan harta kami secara batil, dan saling berbunuhan? Padahal Allah berfirman:<em> </em></p>
<p dir="RTL">يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما !</p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian secara batil, kecuali dengan jual-beli atas dasar kerelaan. Jangan pula kalian saling membunuh, sesungguhnya Allah amat pengasih terhadap kalian (An Nisa’: 29).</em></p>
<p>Abdullah bin ‘Amru pun terdiam sejenak, lalu berkata: “Taatilah dia dalam hal yang bersifat taat kepada Allah, dan maksiatilah dia dalam hal yang bersifat maksiat kepada Allah”. (HR. Muslim no 1844).</p>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah pernah ditanya,</p>
<p dir="RTL">يا نبي الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله في الثانية أو في الثالثة فجذبه الأشعث بن قيس وقال اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم</p>
<p>Wahai Nabiyullah, bagaimana menurutmu jika kami dikuasai oleh para pemimpin yang menuntut hak mereka, namun merampas hak kami. Apa yang engkau perintahkan atas kami? Nabi pun berpaling darinya. Lalu beliau ditanya lagi kedua atau ketiga kalinya, maka Asy’ats bin Qais menarik baju si penanya, lalu Nabi menjawab: <em>“Dengarlah dan taatilah para pemimpin kalian, karena mereka bertanggung jawab atas kewajibannya, dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban kalian”.</em> (HR. Muslim no 1846).</p>
<p>Dalam perang Hunain, Rasulullah berhasil mengalahkan suku Hawazin dan meraih ghanimah yang demikian besar. Beliau lantas membagi-bagikannya kepada suku Quraisy yang baru masuk Islam dan kebanyakan dari mereka justru lari saat pertempuran. Akan tetapi, kaum Anshar yang begitu berjasa dan membela Rasulullah mati-matian, justru tidak diberi apa-apa. Sebagian dari mereka lantas mengeluhkan sikap Rasulullah tersebut, hingga akhirnya beliau berkhutbah di hadapan mereka dengan sangat mengesankan… lalu menutup khutbahnya dengan kata-kata:</p>
<p dir="RTL">أفلا ترضون أن يذهب الناس بالأموال وترجعون إلى رحالكم برسول الله؟ فوالله لما تنقلبون به خير مما ينقلبون به. فقالوا: بلى يا رسول الله قد رضينا, قال: فإنكم ستجدون أثرة شديدة فاصبروا حتى تلقوا الله ورسوله فإني على الحوض, قالوا: سنصبر.</p>
<p><em>“Tidakkah kalian ridha bila orang-orang pulang membawa harta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah? Sungguh demi Allah, apa yang kalian bawa pulang lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang”.</em> “Benar wahai Rasulullah, kami ridha”, jawab mereka. <em>“Kalau begitu, nanti <strong>kalian akan melihat sikap mementingkan diri yang luar biasa dari para penguasa</strong>, <strong><span style="text-decoration: underline;">maka bersabarlah</span></strong> hingga kalian menghadap Allah dan Rasul-Nya, sebab aku menanti kalian di telaga”</em>, pesan Rasulullah. “Baiklah, kami akan bersabar”, jawab kaum Anshar. (HR. Muslim no 1059).</p>
<p>Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah telah berwasiat kepada umatnya secara umum, dan kaum Anshar secara khusus; bahwa kelak akan muncul para penguasa yang mementingkan kemaslahatan pribadi mereka, serta melakukan berbagai kezhaliman dan kemunkaran.</p>
<p>Mereka (mayoritas penguasa tadi) mengesampingkan jasa-jasa kaum Anshar yang demikian besar, dan mengedepankan orang-orang yang tidak berjasa dalam Islam untuk memegang tampuk kekuasaan…</p>
<p>Cobalah kita perhatikan sosok Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Siapa dia? Dari mana asal-usulnya? Apa jasa-jasanya terhadap Islam? Sungguh tak layak jika orang model Hajjaj menjadi gubernur Mekkah dan Madinah sejak tahun 73-75 H, padahal di sana banyak para sahabat dan tabi’in mulia …<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Hajjaj lantas dipindah tugaskan ke Irak dan menjadi gubernur di sana selama 20 tahun. Banyak orang yang ‘tak sabar’ melihat kelakuannya. Sebagian dari mereka berpikir untuk melakukan kudeta… namun sebagian lagi menahan diri. Salah satu orang yang paling dibenci oleh Hajjaj adalah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.</p>
<p>Pembantu setia Rasulullah selama 8 tahun ini pernah kena damprat dan caci maki oleh Hajjaj bin Yusuf !! Seorang tabi’in bernama Ali bin Zaid bin Jud’an menuturkan: Aku pernah berada di istana Hajjaj saat ia menginterogasi para pengikut Ibnul Asy’ats. Ketika Anas berdiri di hadapannya, Hajjaj berkata:</p>
<p>“Hei orang busuk yang tenggelam dalam berbagai fitnah. Sesekali kau di pihak Ali, kemudian di pihak Ibnu Zubeir, lalu di pihak Ibnul Asy’ats<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>?”.</p>
<p>“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu akan kubunuh dan kukuliti laksana seekor biawak !!” celetuk Hajjaj.</p>
<p>“Siapa yang Anda maksud wahai Amir ?” tanya Anas.</p>
<p>“Kamulah yang kumaksud. Semoga Allah menulikan telingamu !” bentak Hajjaj.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” kata Anas. Ia pun keluar dari sana lalu mengatakan: “Demi Allah, andai saja aku tak ingat akan anak-anakku, dan khawatir dia (Hajjaj) menganiaya mereka, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata yang membuatnya pasti membunuhku” lanjut Anas<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Kendatipun demikian, Anas radhiyallahu ‘anhu tidak membalas kekurang ajaran tersebut dengan sikap yang sama, walaupun ia sangat berhak membela diri dari tuduhan ini. Anas lalu menyurati Abdul Malik bin Mirwan selaku khalifah yang mengangkat Hajjaj sebagai gubernur Irak, dan mengeluhkan sikap Hajjaj yang kurang ajar tadi.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dalam versi lainnya, Imam Al Hakim meriwayatkan kisah ini dari Simak bin Musa, katanya:</p>
<p dir="RTL">لما دخل أنس رضي الله عنه على الحجاج أمر بوجى ء عنقه ثم قال يا أهل الشام أتعرفون هذا هذا خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال أتدرون لم وجأت عنقه قالوا الأمير أعلم قال إنه كان بين البلاء في الفتنة الأولى وغاش الصدر في الفتنة الآخرة &#8230;</p>
<p>“Saat Anas menghadap Hajjaj, ia menyuruh agar lehernya ditonjok! Hajjaj lantas berkata: “Wahai warga Syam, apakah kalian mengenal orang ini? Dia adalah pembantu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tahukah kalian mengapa kutonjok lehernya?”. Tanya Hajjaj. “Amir-lah yang lebih tahu” jawab mereka. “Itu karena ia berada di antara bencana yang terjadi dalam fitnah pertama, dan berkhianat dalam fitnah yang terakhir”.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Hajjaj konon berkeliling mempertontonkan Anas kepada pasukannya. Anas lantas menyurati Abdul Malik bin Marwan dengan mengatakan: “Bagaimana menurutmu jika pembantu Nabi Musa mendatangi kalian, apakah kalian akan menyakitinya?”. Maka Abdul Malik menyurati Hajjaj dan menyuruhnya agar membiarkan Anas bin Malik untuk tinggal di bumi mana saja yang dia suka. Ia juga menulis surat kepada Anas dan mengatakan “Tidak ada seorang pun yang berkuasa atasmu selainku”.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>ِMeskipun demikian menyakitkan perlakuan Hajjaj terhadap Anas, Anas tetap saja tidak memberontak atau mengajak orang-orang untuk ‘berdemonstrasi’ menuntut agar Hajjaj dicopot dari jabatannya…. Dan jangan lupa, bahwa status beliau adalah pembantu setia Rasulullah dan satu dari segelintir sahabat Nabi yang masih hidup… bahkan umur beliau kala itu telah demikian lanjut, sebab beliau wafat tahun 93 H dalam usia 103 tahun menurut pendapat paling shahih, sedangkan fitnah Ibnul Asy’ats berakhir pada tahun 84 H. Ini berarti bahwa usia beliau saat dicaci-maki oleh Hajjaj adalah 90 tahun atau lebih…</p>
<p>Kendatipun demikian, simaklah bagaimana sikap beliau terhadap warga Basrah yang mengeluhkan perilaku Hajjaj ini. Salah seorang tabi’in murid Anas bin Malik yang bernama Zubeir bin Adiy mengatakan,</p>
<p dir="RTL">أتينا أنس بن مالك نشكو إليه ما نلقى من الحجاج، فقال: اصبروا فإنه لا يأتي عليكم عام أو زمان أو يوم إلا والذي بعده شر منه، حتى تلقوا ربكم عزوجل، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Kami mendatangi Anas dalam rangka mengeluhkan kezhaliman Hajjaj terhadap kami. Maka kata Anas, “Sabarlah kalian, sebab tidaklah kalian melalui suatu hari atau zaman, melainkan yang datang setelahnya lebih jelek dari itu. (Demikian seterusnya) sampai kalian menghadap Allah (mati)”. Inilah yang kudengar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Demikian pula sikap Imam Hasan Al Bashri yang merupakan musuh bebuyutan Hajjaj dan berulang kali hendak dihabisinya. Hasan yang notabene adalah murid Anas bin Malik juga bersikap sebagaimana ‘ustadz’-nya yang tidak setuju terhadap khuruj.</p>
<p>Ayyub As Sikhtiyani mengatakan bahwa Hajjaj berulang kali berniat membunuh Hasan Al Basri, akan tetapi Allah melindunginya. Hasan juga beberapa kali terlibat perdebatan dengan Hajjaj. Pun begitu, Hasan tidak termasuk orang yang membolehkan khuruj (pemberontakan) terhadap Hajjaj. Ia bahkan melarang pengikut Ibnul Asy’ats untuk memberontak. Hasan mengatakan bahwa Hajjaj merupakan hukuman, maka janganlah kalian hadapi hukuman Allah dengan pedang. Kalian harus bersabar, tenang, dan merendahkan diri kepada Allah”.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Asy-Sya’bi berkata, “Akan datang suatu masa di mana orang-orang mendoakan kebaikan bagi Hajjaj”. Dalam riwayat lain beliau mengatakan, “Demi Allah, jika kalian berumur panjang; kalian akan mengharapkan kembalinya Hajjaj”.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Oleh karena itu, terjadinya pemberontakan Ibnul Asy’ats yang didukung oleh banyak ulama Irak saat itu, merupakan kesalahan besar yang mengakibatkan malapetaka. Simaklah komentar Ibnu Katsir setelah menyitir tragedi menewaskan sekitar 130 ribu muslim ini. Beliau mengatakan,</p>
<p><em>“Sungguh aneh bin ajaib ketika mereka (para fuqaha’ Irak) membaiatnya (yakni Abdurrahman ibnul Asy’ats) sebagai amirul mukminin, padahal ia bukan berasal dari Quraisy. Ia hanyalah seorang lelaki suku Kindah asal Yaman. Sedangkan para sahabat saat peristiwa saqifah Bani Sa’idah telah sepakat, bahwa yang berhak menjadi amirul mukminin hanyalah suku Quraisy. Abu Bakar Ash Shiddiq bahkan menegaskan hal tersebut dengan menyitir sebuah hadits. Saat kaum Anshar menuntut agar mreka memiliki amir di samping amir kaum Muhajirin, Abu Bakar menolak tuntutan tersebut. Bahkan Abu Bakar sempat mencambuk Sa’ad bin Ubadah yang awalnya menyerukan hal tersebut, namun kemudian rujuk darinya.</em></p>
<p><em>Lantas bagaimana dibenarkan bila mereka -para fuqaha’ Irak- menyikapi seorang khalifah yang telah dibaiat sebagai pemimpin kaum muslimin, lantas mencopotnya; padahal ia berasal dari suku Quraisy asli? Lalu di saat yang sama mereka membaiat seorang lelaki suku Kindah padahal baiat tersebut tidak disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi? Karena ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, maka terjadilah bencana besar yang menewaskan banyak korban…</em> <em>inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”.</em><a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat: Liqaa’ al Baabil Maftuh, no 179.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/الثورة_التونسية</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat: http://www.aljazeera.net/NR/EXERES/A3A3FFB0-69C1-40FF-8261-3223AC997B98.htm</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15310470,00.html</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Sebagian kalangan menganggap bahwa pemberontakan yang tidak boleh dilakukan ialah pemberontakan bersenjata. Namun yang benar ialah bahwa pemberontakan (khuruj) bisa terjadi dengan keyakinan maupun perbuatan. Contoh <em>khuruj</em> dengan keyakinan (pemikiran) ialah dengan tidak mau berbaiat, dan meyakini bolehnya atau wajibnya <em>khuruj</em> terhadap penguasa muslim. Para salaf sering mencela orang yang khuruj dengan cara seperti ini dengan istilah ‘kaana yara as-saif’.</p>
<p>Sedangkan jenis kedua, ialah orang yang mengangkat senjata melawan pemimpinnya. Seperti dengan berkumpul di suatu tempat dengan maksud melengserkan pemimpin atau menggantinya, atau dalam rangka membikin kekacauan dan fitnah yang melaluinya si penguasa akan terbunuh atau disingkirkan. Artinya, semua perbuatan yang mengarah kepada pemberontakan, atau berusaha membunuh dan melengserkan penguasa, termasuk kategori khuruj yang kedua.</p>
<p>Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa khuruj juga bisa terjadi lewat ucapan. Yaitu bila ia mengatakan sesuatu yang berakibat pada terjadinya pemberontakan. Namun jika ia mengatakan sesuatu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar sesuai aturan syar’i tanpa menimbulkan fitnah; maka tidak dianggap sebagai khuruj (lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh).</p>
<p>Contoh orang-orang yang dikritik karena berpemikiran khawarij ialah: Hasan bin Shalih bin Hay, Ali bin Abi Thalhah, ‘Imran bin Dawar Al Qaththan, Muhammad bin Rasyid Al Makhuly, dan Imam Abu Hanifah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat: Tariekhul Islam 2/759-764. Para sahabat yang masih hidup saat Hajjaj berkuasa di Haramain contohnya: Abu Sa’id Al Khudri, Rafi’ bin Khadiej, dan Salamah bin Akwa’ mereka semua wafat th 74 H. Kemudian ‘Irbadh bin Sariyah, dan Abu Tsa’labah Al Khusyani (keduanya wafat th 75 H). Sedangkan yang tetap hidup hingga Hajjaj pindah ke Irak, adalah Jabir bin Abdillah dan Zaid bin Khalid Al Juhani (keduanya wafat th 78 H).  Hajjaj lantas menjadi gubernur Irak selama 20 tahun kemudian, padahal di sana terdapat sahabat terkenal Anas bin Malik Al Anshari, dan sejumlah tokoh Tabi’in seperti Hasan Al Basri, Sa’id bin Jubair, Asy Sya’bi, dll.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>  Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubeir, dan Ibnul Asy’ats adalah orang-orang yang pernah berseteru dengan Bani Umayyah, sedangkan Hajjaj adalah kaki tangan Bani Umayyah yang demikian loyal, sehingga memusuhi setiap orang yang dianggap berseberangan dengan ‘majikannya’.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Kisah ini diriwayatkan oleh At Thabrani dlm Al Mu’jamul Kabir (no 704) dan Ibnu Asakir dlm Tarikh Dimasyq (9/372) dengan sanad yang hasan hingga Ali bin Zaid bin Jud’an. Ibn Jud’an adalah orang yang jujur namun lemah hafalannya. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Mu’afa bin Zakariya dlm Al Jalis As Shalih (3/151) dari Jalur Hisyam bin Muhammad bin Sa-ib Al Kalbi, dari ‘Awanah bin Hakam Al Kalbi dengan redaksi yang mirip. Semua perawi dalam sanad yang kedua ini tergolong tsiqah kecuali Hisyam Al Kalbi yang dianggap matruk walaupun hafalannya sangat luas dan tergolong ahli sejarah.</p>
<p>Bila diperhatikan, kelemahan yang ada pada Ibnu Jud’an bisa ditoleransi mengingat ia menyaksikan langsung peristiwa tersebut, dan hal ini lebih melekat pada ingatan daripada sekedar mendengar. Apalagi kisah yang senada juga diriwayatkan oleh ahli sejarah terkenal -walaupun dianggap matruk dalam hal hadits-, yaitu Hisyam Al Kalbi. Intinya kisah ini bisa diterima. Al Mizzi juga meriwayatkan kisah ini dari jalur Ibnu Jud’an dengan lafazh <em>jazm</em> (Qaala), yang berarti bahwa sanad kisah ini <em>laa ba’sa bihi</em> (tidak bermasalah) menurut beliau (lihat: Tahdzibul Kamal 3/373).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat kisah selengkapnya dalam Al Jalis Ash Shalih (3/151-153) dan Tarikh Dimasyq</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Al-Mustadrak 3/574, dengan sanad yang hasan. Fitnah yang pertama maksudnya peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah, atau antara pasukan Syam yang dipimpin oleh Hajjaj melawan Ibnu Zubeir. Sedangkan fitnah yang terakhir maksudnya adalah pemberontakan Ibnul Asy’ats beserta warga Irak melawan Bani Umayyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Diriwayatkan oleh Al Hakim dlm Mustadrak-nya dengan sanad yang sama, dari penuturan Muhammad bin Mughirah. Menurut  Hisyam Al Kalbi, surat Anas terhadap Abdul Malik bunyinya adalah: “Bismillahirrahmanirrahiem, untuk Abdul Malik bin Marwan dari Anas bin Malik… Amma ba’du, Hajjaj telah mengucapkan kata-kata keji dan memperdengarkan sesuatu yang munkar kepadaku, padahal aku tidaklah seperti itu. Maka tahanlah dia dariku sebab aku merupakan pembantu serta sahabat Rasulullah. Wassalaam” (Lihat: Al Bidayah wan Nihayah 9/153).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Ahmad (no 12838) sebagaimana lafazh di atas, dan Bukhari (no 6657).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Al Bidayah wan Nihayah 9/155.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Idem.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Al Bidayah wan Nihayah 9/66.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</title>
		<link>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2/</link>
		<comments>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 14:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah syar'iyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 2 Bangunlah Rumah dari Bawah Erat kaitannya dengan pelajaran pertama, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu negara, pasti memiliki elemen-elemen penting yang menyusunnya. Undang-undang ibarat pondasi, sedangkan rakyat adalah dinding, dan pemerintah adalah atapnya. Bila kita<a class="rmore" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><strong><img class="aligncenter" src="https://encrypted-tbn3.google.com/images?q=tbn:ANd9GcSBkDJO0BbaNoBGRoojLkCoxHtR7-lYG43bucqZ7ssHVNm_Y6kLOA" alt="" width="276" height="183" />Pelajaran 2</strong></p>
<p align="center"><strong>Bangunlah Rumah dari Bawah</strong></p>
<p>Erat kaitannya dengan pelajaran pertama, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu negara, pasti memiliki elemen-elemen penting yang menyusunnya. Undang-undang ibarat pondasi, sedangkan rakyat adalah dinding, dan pemerintah adalah atapnya. Bila kita perhatikan berbagai revolusi tadi, ternyata semuanya menginginkan perubahan dari ‘atap’. Mereka tak mempedulikan keadaan pondasi dan dinding rumah yang hendak direnovasi. ‘Pokoknya, gentengnya harus kita ganti baru !’, seru mereka.<span id="more-695"></span> Padahal, apa artinya genteng baru yang mengkilap kalau pondasi dan dindingnya rapuh? Apa artinya presiden baru kalau undang-undang dan rakyatnya masih seperti dulu? Perubahan yang terjadi ibarat bunglon yang berganti warna kulit, sedangkan ia tetap bunglon. Kalau pun ada perubahan maka artinya tak seberapa, karena yang berubah hanyalah wajah penguasa, bukan sistem dan perilakunya. Berikut ini sebuah perbandingan sederhana antara perubahan dari bawah akibat dakwah, dan perubahan dari atas akibat revolusi. Dalam Sirah-nya, Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, bahwa sejumlah tokoh musyrikin Quraisy pernah berkumpul di samping Ka’bah. Mereka berunding untuk menghentikan laju dakwah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Diutuslah seseorang untuk memanggil beliau. Begitu beliau datang, mereka segera memuntahkan segala uneg-uneg mereka tentang dakwah beliau. Mereka demikian kebakaran jenggot akibat dakwah tauhid yang diserukan Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Menurut mereka, dakwah itu telah memecah belah kesatuan suku Quraisy. Beliau dituduh mencemooh ajaran leluhurnya, mencaci-maki berhala, membodoh-bodohkan keyakinan kaumnya, dan melakukan semua tindakan tercela yang merusak hubungan beliau dengan mereka. Mereka lantas berkata, “Kalaulah tujuanmu mendakwahkan itu semua adalah demi mencari harta, kami akan kumpulkan separuh harta kami untukmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling kaya di antara kita. Tapi bila dakwahmu ini demi mencari status sosial, maka kami angkat kamu menjadi pemimpin kami. Namun <strong>bila engkau</strong> <strong>menghendaki</strong> <strong>kekuasaan</strong>, <strong>kami angkat dirimu menjadi raja</strong>. Sedang bila semua ajakanmu ini akibat gangguan setan (kesurupan), maka kami akan mencarikan tabib dan menanggung biaya pengobatanmu hingga sembuh”. Alangkah manisnya tawaran-tawaran tersebut. Dr. Ahmad an-Naqieb mengatakan, “Sebenarnya kalau dipikir, mengapa beliau tidak menerima tawaran tadi? Padahal jika beliau menjadi orang paling kaya, maka beliau bisa membeli budak dalam jumlah besar (10 ribu orang misalnya), lalu mempersenjatai mereka dan mengatakan kepada kaum musyrikin, “Pilih mana: kalian masuk Islam, atau mereka kusuruh menghabisi kalian?!” Bukankah dengan begitu beliau dapat menyukseskan misinya dengan mudah?”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Akan tetapi Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> mengatakan, “Aku tak mengerti maksud ucapan kalian. Semua yang kudakwahkan kepada kalian bukanlah dalam rangka mencari kekayaan, status sosial, maupun kekuasaan. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul, menurunkan kitab kepadaku, dan menyuruhku memberi kabar gembira dan peringatan bagi kalian. Maka kusampaikanlah risalah Allah dan kunasehati kalian. Jika kalian menerima ajakanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan di akhirat. Namun jika kalian menolaknya, maka aku akan bersabar sampai Allah memutuskan perselisihan kita”.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>Beliau menolak semua tawaran tadi karena beliau memiliki misi utama, yaitu membenahi kondisi dan perilaku kaumnya. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156) الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)</p>
<p><em> “… dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka kelak akan Ku-tetapkan rahmat tersebut bagi orang-orang bertakwa yang menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat Kami. Yaitu mereka yang mengikuti Rasulullah sebagai Nabi yang ummi (buta huruf); yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil milik mereka. Ia menyuruh mereka berbuat ma’ruf, melarang mereka berbuat munkar, menghalalkan bagi mereka semua yang baik, mengharamkan bagi mereka semua yang buruk, serta mencabut segala belenggu dan beban yang sebelumnya mereka pikul. Maka siapa saja yang beriman kepadanya, mendukungnya, membelanya, dan mengikuti cahaya yang turun kepadanya (Al Qur’an), berarti mereka lah orang-orang yang beruntung”</em> (al-A’raaf: 156-157). Beliau menolak dijadikan penguasa atas mereka. Sebab selama mereka belum mau diberesi, maka percuma saja dikuasai. Namun yang sering kita saksikan adalah sebaliknya. Sebagian orang justru demikian ambisius mencapai kekuasaan. Karenanya, mereka menempuh hampir segala cara demi mewujudkannya. Jalan dakwah terlalu panjang di mata mereka, dan mereka khawatir takkan sempat memetik buah manisnya karena terlalu lama. Mereka ingin mengadakan perubahan drastis dengan jalan pintas, yaitu merebut kekuasaan. Yang ‘agak sabar’ di antara mereka, menempuhnya lewat politik praktis dan parlemen. Namun yang tak sabar, meraihnya lewat kudeta dan revolusi. Semua cara tadi telah dicoba di beberapa negara. Mesir, Turki, Sudan, Aljazair, dan Suriah adalah sebagian contohnya. Tak satupun dari negara tersebut yang berhasil dibenahi. Mesir masih identik dengan kerusakan moral dan ratusan kuburan keramatnya. Turki tetap identik dengan undang-undang sekulernya. Sudan kalah negoisasi dengan pihak Nasrani dan kini terpecah menjadi dua. Partai Islam Aljazair (FIS) gagal berkuasa setelah menang suara. Sedangkan 40 ribu warga kota <em>Hamah</em> di Suriah menjadi korban pembantaian setelah gagal melakukan kudeta !<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Bandingkan kondisi negara-negara tersebut dengan penduduk jazirah Arab tiga abad yang lalu. Kondisi mereka jauh lebih mengenaskan dari kaum musyrikin di zaman Nabi <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Kemusyrikan menjadi fenomena sehari-hari. Bid’ah, khurafat, dan takhayyul sudah bukan rahasia lagi. Sedangkan pembunuhan dan perampokan telah menjadi profesi. Namun melalu dakwah <em>islahiyyah</em> yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kondisi mereka berubah dari hari ke hari. Kemusyrikan dibasmi satu persatu dengan <em>hujjah</em>dan dalil. Kebodohan, bid’ah, khurafat, dan takhayul digantikan oleh ilmu, sunnah, akidah, dan amal. Pembunuhan dan perampokan berganti dengan keamanan; sedangkan kemiskinan berganti dengan kemakmuran. Simaklah ucapan sejarawan Najed terkenal di masanya yang mengatakan:</p>
<p dir="RTL">&#8220;ولقد رأينا الدرعية بعد ذلك في زمن سعود بن عبد العزيز بن محمد بن سعود رحمهم الله تعالى، وما في أهلها من الأموال وكثرة الرجال والسلاح المحلى بالذهب والفضة، وعندهم الخيل الجياد والنجايب العمانيات، والملابس الفاخرة والرفاهيات ما يعجز عن عده اللسان، ويكل عن حصره الجنان والبنان. ولقد نظرت إلى موسمها يوماً وأنا في مكان مرتفع، وهو في الموضع المعروف بالباطن، بين منازلها الغربية التي فيها آل سعود والمعروفة بالطريف، وبين منازلها الشرقية، والمعروفة بالبجيري التي فيها أبناء الشيخ. ورأيت موسم الرجال في جانب وموسم النساء في جانب، وما فيه من الذهب والفضة والسلاح والإبل والأغنام، وكثرة ما يتعاطونه من صفقة البيع والشراء، والأخذ والعطاء، وغير ذلك، وهو مد البصر لا تسمع فيه إلا دوي النحل من النجناج، وقول: بعت واشتريت، والدكاكين على جانبيه الشرقي والغربي، وفيها من الهدم والقماش والسلاح ما لا يوصف، فسبحان من لا يزول سلطانه وملكه&#8230;&#8221;</p>
<p> “Sungguh, kami pernah menyaksikan kota <em>Dir&#8217;iyyah</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a> pada zaman Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud, <em>rahimahumullah</em>. Alangkah banyak harta yang dimiliki warganya, di samping besarnya jumlah pasukan dan persenjataan berlapis emas dan perak. Demikian pula kuda-kuda dan unta-unta istimewa, pakaian-pakaian mewah, dan berbagai kemegahan yang sulit dibayangkan dalam hati maupun dilukiskan lewat kata-kata. Aku pernah menyaksikan suatu pekan raya di <em>Dir&#8217;iyyah</em> dari sebuah tempat yang tinggi. Pekan tersebut berada di tempat bernama <em>Baathin</em>, yang terletak di antara perumahan keluarga Saud -yang dikenal dengan nama Thuraif- dan perumahan keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang dikenal dengan nama Bujairi-. Kulihat bahwa tempat laki-laki terpisah dari tempat perempuan. Kusaksikan betapa banyak emas, perak, senjata, unta, dan kambing. Betapa seringnya transaksi jual beli dan serah terima terjadi di sana. Pekan tersebut terlihat sejauh pandangan mata, dan yang terdengar hanyalah tempik sorak dan gemuruh pasar mirip dengungan lebah. Toko-toko berjejer di sebelah timur dan barat, penuh berisi pakaian, tekstil, dan senjata yang tak terbayangkan. Maha Suci Allah yang selalu abadi kekuasaan-Nya…”.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Inilah sebuah perbandingan sederhana antara perjuangan lewat dakwah yang dibangun atas landasan tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>, yang memakan waktu puluhan tahun&#8230; akan tetapi membuahkan hasil manis berupa tegaknya tauhid, runtuhnya symbol-simbol syirik, dan tegaknya syari’at Allah. Bandingkan dengan perjuangan lewat demokrasi dan revolusi yang dilakukan dalam waktu relatif singkat, akan tetapi tak pernah berujung pada tegaknya tauhid atau lenyapnya berbagai kemusyrikan. Bersambung…</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dr. Ahmad an-Naqieb adalah salah seorang Syaikh salafi di Mesir. Hal ini beliau sampaikan dalam salah satu <em>dars</em>-nya saat Mesir sedang rusuh oleh berbagai aksi unjuk rasa dan kerusuhan menjelang lengsernya Presiden Husni Mubarak.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat: As Sierah An Nabawiyyah, oleh Ibnu Hisyam (2/131-133). Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari berbagai jalur, dan semuanya dengan sanad yang terputus (mursal). Akan tetapi, riwayat-riwayat lemah seperti ini dalam sirah nabawiyah masih ditoleransi oleh para ulama. Apalagi Ibnu Ishaq adalah Imam dalam hal <em>maghazi</em> dan sirah nabawiyyah.</div>
<div><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Peristiwa berdarah ini merupakan operasi militer terbesar yang dilancarkan Presiden Hafizh Assad terhadap Ikhwanul Muslimin di Suriah. Pembantaian kaum muslimin ini terjadi mulai tanggal 2 Februari 1982 di kota Hamah, Suriah. Dan berlangsung hingga 27 hari berikutnya. Warga Hamah dikepung lalu digempur dengan menggunakan senjata berat, artileri, dan mortir hingga puluhan ribu jiwa menjadi korban. Kronologi selengkapnya bisa dibaca di: http://ar.wikipedia.org/wiki/مجزرة_حماة</div>
<div><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Sebuah kota kecil di selatan ibukota Riyadh sekarang, yang dahulu merupakan ibukota Daulah Su’udiyyah I dan II. Daulah Su’udiyyah pernah berdiri dua kali. Periode pertama (1744-1818 M) adalah periode keemasannya. Kemudian disusul dengan periode kedua (1824-1891 M). Dan kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi (1926-Sekarang).</div>
<div><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat: <em>‘Unwaanul Majd, fi Tariekhi Najd</em> (1/44), karya Al ‘Allamah Utsman bin Abdillah bin Bisyr. Sebagaimana yang dinukil dalam (الأطلس التاريخي للمملكة العربية السعودية ص 100). Syaikh Utsman bin Abdillah bin Bisyr adalah sejarawan Nejed yang hidup pada masa Daulah Su’udiyyah I.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</title>
		<link>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/</link>
		<comments>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 14:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hudzaifah Al Atsary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[siyasah syar'iyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kudeta]]></category>
		<category><![CDATA[Lengser]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Penjarahan]]></category>
		<category><![CDATA[unjuk rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran, dan perang sengit antara Muammar Gaddafi melawan para demonstran. Dari Afrika, gelombang unjuk rasa berputar haluan menuju Bahrain, Yaman, dan Suriah. Wallahu a’lam, negara<a class="rmore" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft" style="border: 3px solid white;" src="https://encrypted-tbn2.google.com/images?q=tbn:ANd9GcRknkh3YxxthDnKpX2WebjFytBkm2xY7xWsmqQLyAyqGNWQPhB99g" alt="" width="304" height="166" />Mukaddimah</strong></p>
<p>Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran, dan perang sengit antara Muammar Gaddafi melawan para demonstran. Dari Afrika, gelombang unjuk rasa berputar haluan menuju Bahrain, Yaman, dan Suriah. Wallahu a’lam, negara mana lagi selanjutnya yang mendapat giliran.</p>
<p>Korban jiwa berjatuhan. Puluhan di Tunisia, ratusan di Mesir &amp; Yaman, dan ribuan di Libya dan Suriah. Adapun yang luka-luka, maka tak terkira jumlahnya. Pembunuhan, penjarahan, perusakan, dan pelanggaran kehormatan, nampaknya menjadi harga mati setiap revolusi.</p>
<p>Peristiwa ini mengingatkan penulis terhadap kerusuhan Mei 1998 yang melanda sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, ribuan mahasiswa berunjuk rasa menuntut lengsernya Pak Harto yang telah berkuasa 32 tahun. Berbagai yel-yel diteriakkan oleh mereka. Mayoritas menuntut perbaikan ekonomi, sebagian menuntut kebebasan hak asasi, sebagian lagi sekedar mencari sensasi, namun sedikit sekali yang berjuang demi ridha ilahi.<span id="more-692"></span></p>
<p>Elang Mulya, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie adalah empat mahasiswa Trisakti yang terbunuh tanggal 12 Mei 1998. Nama mereka lantas diabadikan sebagai ‘Pahlawan Reformasi’.</p>
<p>Mirip revolusi <em>yasmin</em> di Tunisia, terbunuhnya keempat mahasiswa tadi memicu kerusuhan besar di Jakarta dan Solo (kota asal saya). Tanggal 14-15 Mei merupakan hari-hari paling kelabu dalam sejarah <em>kota bengawan</em> ini. Kelabu bukan hanya dalam arti ‘menyedihkan’, namun kelabu dalam arti yang sesungguhnya. Pembakaran terjadi di mana-mana. Pertokoan, pusat perbelanjaan, dealer kendaraan, dan sebagian rumah warga adalah sasarannya.</p>
<p>Penjarahan dan pengrusakan oleh massa terjadi di hampir seluruh kota. Gerombolan perusuh berambut gondrong dan bertato terlihat melempari rumah warga dengan batu dan botol. Mereka hendak meluapkan emosi dengan gaya mereka, atau mungkin sekedar <em>iseng</em> dan membikin huru-hara. Tumpukan ban yang dibakar semakin menambah ‘kelabu’ suasana hari itu. Sejumlah aset milik etnis tionghoa menjadi sasaran utama mereka, bahkan banyak dari wanita mereka yang konon diperkosa !</p>
<p>Kaum perusuh memang tak membedakan siapa kawan siapa lawan. Bagi mereka, kerusuhan adalah kesempatan emas untuk beraksi dan mencari kepuasan.</p>
<p>Malamnya, suasana demikian mencekam. Warga memasang barikade di mulut-mulut gang dan melakukan jaga malam. Saya sendiri termasuk yang ikut berjaga beberapa kali. Kota Solo terasa demikian sunyi karena sebagian besar warga memilih tinggal di rumah. Lagi pula, untuk apa keluar rumah? Toh kantor-kantor dan sekolah-sekolah libur total… toko-toko nyaris tak ada yang buka… dan jalan-jalan dipenuhi bangkai kendaraan yang terbakar !</p>
<p>Pun demikian, lengsernya Pak Harto tanggal 21 Mei 1998 tak menghentikan kerusuhan begitu saja. Enam bulan kemudian, tragedi berdarah kembali terulang di Ibukota. Dan lagi-lagi, korbannya adalah pelajar dan mahasiswa.</p>
<p>Agaknya, tumbangnya Pak Harto sebagai simbol rezim orba menumbangkan pula rasa takut rakyat terhadap penguasa. Presiden B.J. Habibie yang jenius ternyata tak punya wibawa… beda jauh dengan pendahulunya. Dan mulai saat itu, unjuk rasa menjadi pemandangan biasa di ibukota.</p>
<p>Wibawa pemerintah pun semakin menurun. Baik periode Habibie, Gus Dur, Megawati, maupun SBY; semuanya diwarnai berbagai unjuk rasa. Kita menginginkan pemimpin yang jujur, adil, dan berpihak kepada Islam. Berbagai sarana ditempuh oleh kaum muslimin untuk memegang tampuk kekuasaan. Partai-partai yang berlabel Islam bermunculan bak cendawan di musim hujan. Umat pun bingung, siapa yang harus dipilih? Semuanya mengatasnamakan Islam dan semuanya menginginkan perubahan. Namun lagi-lagi hasilnya mengecewakan.</p>
<p>Berbagai peristiwa tadi, baik yang terjadi di timur tengah maupun di tanah air, tentu memiliki segudang pelajaran berharga. Sebab Ahlussunnah meyakini bahwa Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang bersifat kejelekan seratus persen. Akan tetapi, sejelek apa pun takdir Allah, pasti di baliknya tersimpan sejumlah hikmah dan pelajaran.</p>
<p align="center"><strong>Pelajaran 1</strong></p>
<p align="center"><strong>Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian</strong></p>
<p>Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya. Ali bin Abi Thalib ط pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itupun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>: waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan <em>kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum</em> (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Cobalah perhatikan kondisi masyarakat…</p>
<p>Karakter pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya adalah salah satu ketentuan Allah yang bijaksana. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p><em>Demikianlah Kami kuasakan orang-orang yang zhalim itu satu sama lain, sebagai akibat dari perbuatan mereka</em> (al-An’am: 129).</p>
<p>Demikian pula sebaliknya, Allah mengangkat pemimpin shalih bagi rakyat yang shalih. Jika kita perhatikan diri kita sebagai rakyat, ternyata kita pun sering meremehkan kewajiban, tenggelam dalam maksiat, curang dalam jual-beli, melakukan penipuan, pemalsuan, dan banyak lagi.</p>
<p>Siapa yang meneliti kondisi umat Islam hari ini, pasti akan menyaksikan berbagai kekurangan dan kelemahan. Umat Islam adalah umat yang jujur, menepati janji, dan amanah. Akan tetapi semua sifat ini tak lagi dimiliki sekarang, kecuali pada segelintir orang yang masih dirahmati Allah.</p>
<p>Kalaulah kita sendiri menyia-nyiakan amanah yang kita pikul padahal kita bukanlah penguasa besar, lantas bagaimana halnya dengan mereka yang menguasai kita? Boleh jadi lebih menyia-nyiakan lagi daripada kita. Akan tetapi, bersikaplah yang lurus, niscaya Allah menjadikan pemimpin kita bersikap lurus [..].</p>
<p>Ibnul Qayyim (w. 751 H) mengatakan: Cobalah perhatikan hikmah Allah yang menjadikan para penguasa sebanding dengan jenis perbuatan rakyatnya, bahkan tingkah laku rakyat menjadi cerminan penguasa mereka. Jika rakyat itu istiqamah (lurus), maka penguasanya pun lurus. Jika mereka adil, maka penguasa pun adil. Jika mereka zhalim, maka penguasa pun zhalim. Jika mereka terkenal suka menipu dan manipulasi, maka penguasanya pun seperti itu. Jika mereka menahan hak Allah terhadap harta mereka dan pelit dalam membayar zakat; maka penguasa akan menahan hak rakyatnya dan pelit terhadap mereka. Jika golongan lemah dari mereka menindas yang kuat dan mengambil yang bukan miliknya dalam bermuamalah, maka penguasa akan mengambil pula yang bukan miliknya dan mencekik mereka dengan berbagai pajak dan upeti. Semua yang mereka rampas dari pihak yang lemah, akan dirampas dari mereka oleh penguasa … jadi, para pejabat adalah potret perbuatan rakyat! Hikmah ilahi tidak punya ketentuan lain, selain menguasakan orang jahat atas sesamanya.</p>
<p>Berhubung generasi pertama umat Islam adalah generasi terbaik, maka pemimpin mereka pun adalah pemimpin terbaik. Ketika mereka mulai menyimpang, pemimpin mereka pun menyimpang.</p>
<p>Jadi, kebijaksanaan Allah tak mengizinkan kita untuk dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, apalagi oleh pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Akan tetapi, pemimpin kita adalah sesuai dengan kualitas kita. Dan pemimpin sebelum kita, juga sesuai dengan kualitas rakyatnya [..].<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Bersambung…</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Lihat: Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Beliau mengatakannya dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh. Yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau. Penjelasan ini disampaikan dalam pertemuan ke-50 dari total 236 pertemuan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat: <em>Miftaah Daaris Sa’aadah</em> (2/168-169).</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hebat, Bung Karno pun Mengagumi Wahhabi !</title>
		<link>http://basweidan.com/hebat-bung-karno-pun-mengagumi-wahhabi/</link>
		<comments>http://basweidan.com/hebat-bung-karno-pun-mengagumi-wahhabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 11:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.wordpress.com/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Artawijaya Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi.” Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati,” ujar Bung Karno. Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah sembarang orang.<a class="rmore" href="http://basweidan.com/hebat-bung-karno-pun-mengagumi-wahhabi/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><em>Oleh: Artawijaya</em></strong></p>
<p><strong><em>Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi.” Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik</em></strong><strong> <em>hati,” ujar Bung Karno.<span id="more-648"></span></em></strong></p>
<p>Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah sembarang orang. Ia tokoh muda bangsa yang kala itu berada dalam pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Soekarno, nama pengirim surat itu, tak lain adalah sosok yang kemudian hari menjadi  <em>founding father </em>dan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno sosok yang berapi-api, cerdas, dan ambisius.</p>
<p>Dari tanah pengasingan yang sepi, Soekarno berkirim surat kepada Tuan Hassan, begitu A. Hassan biasa disapa</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-747" title="paperglass" src="http://basweidan.com/wp-content/uploads/2011/12/paperglass-300x199.jpg" alt="paperglass" width="300" height="199" /></p>
<p>pada saat itu.  Bagi Soekarno, A. Hassan adalah sahabat sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Ia mengagumi karya-karyanya, termasuk juga mengagumi cara pandangnya terhadap ajaran-ajaran Islam. Kepada Tuan Hassan, Soekarno berkirim kabar dan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal, di antaranya soal taklid, takhayul, kejumudan umat Islam, dan lain sebagainya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan Islam, terutama karya-karya A. Hassan. Di antara karya A. Hassan yang ingin sekali ia baca adalah buku berjudul, “Utusan Wahabi”.</p>
<p>Sepucuk surat itu ia tulis dengan ketulusan, sebagai berikut:</p>
<p><strong>Endeh, 1 Desember 1934</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum,</em></p>
<p>Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.</p>
<p>Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan sayyid atau habaib, red). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!</p>
<p>Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.</p>
<p><em>Wassalam,</em></p>
<p><strong>Soekarno</strong></p>
<p>Pada kesempatan lain, Soekarno juga berkirim kabar kepada A. Hassan, memohon agar guru Persatuan Islam (Persis) itu membantu perekonomian keluarganya, dengan membeli karya terjemahannya mengenai Ibnu Saud. Soekarno menceritakan kekagumannya kepada Ibnu Saud setelah menerjemahkan sebuah karya berbahasa Inggris mengenai sosok tersebut.</p>
<p>“Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu <em>confenssion</em>. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah, <em>pen</em>) akan kehilangan akal nanti sama sekali,” tulisnya.</p>
<p>Kepada Tuan Hassan, ia menuliskan sebagai berikut:</p>
<p><strong>Endeh, 12 Juli 1936</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum,</em></p>
<p>Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.</p>
<p>Buat mengganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka (halaman, pen). Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.</p>
<p>Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela’ mata dan sorban saja !.</p>
<p>Saudara, please tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia-akherat.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p><strong>Soekarno</strong></p>
<p>Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga <strong>tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.</strong></p>
<p>Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis:</p>
<p>“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya <strong>tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu</strong>, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”</p>
<p>Begitulah cuplikan surat-surat Soekarno kepada sahabatnya, Tuan A. Hassan. Sahabatnya yang pada masa lalu <strong>mendapat stigma “Wahabi”</strong> dan dianggap membawa paham baru soal Islam. Unik memang persahabatan Soekarno dan A. Hassan. Karena pada masa selanjutnya, dua orang sahabat ini berbeda pandangan soal hubungan agama dan negara.</p>
<p>Meski sahabat karib, A. Hassan tak segan-segan mengkritik Soekarno yang begitu mengidolakan sekularisasi yang diusung oleh tokoh sekular Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Bagi A. Hassan, Islam tak bisa dipisahkan dari urusan negara. Kritik A. Hassan terhadap paham sekular Soekarno bisa dilihat dalam buku “<em>Islam dan Kebangsaan</em>“, sebuah karya fenomenal A. Hassan yang mengkritisi kelompok nasionalis-sekular pada masa itu.</p>
<div>
<p><em>Toh</em>, meski berbeda pandangan, ketika Soekarno di penjara di Bandung, Tuan Hassan dan para anggota Persatuan Islam tetap membesuknya sebagai sahabat. [voa-islam.com] Kamis, 01 Dec 2011</p>
</div>
<p>Demikian tulisan Artawijaya yang dimuat situs voaislam.com.</p>
<p>Berikut ini ada catatan nahimunkar.com:</p>
<p><strong>Oleh-oleh Presiden Soekarno untuk A Hassan</strong></p>
<p>Kitab suci (palsu) Tadzkirah yang sering ditenteng M Amin Djamaluddin ketua LPPI, menurut cerita dia, adalah oleh-oleh Soekarno atas pesanan A Hassan. Karena sebelum berangkat untuk berkunjung ke India, Presiden Soekarno menawari A Hassan, mau dibawakan oleh-oleh apa. Maka A Hassan minta dibelikan kitab suci (palsu) Ahmadiyah bernama Tadzkirah Wahyu Muqaddas, yang disebut sebagai kumpulan wahyu untuk nabi (palsu) Mirza Ghulam Ahmad.</p>
<p>Betapa dahsyatnya penghancuran aqidah Islam dalam kitab Tadzkirah itu, tidak dapat dianggap kecil sama sekali. Karena di dalamnya ada “wahyu” yang sangat sesat, jelas-jelas wahyu syetan. Bunyinya:</p>
<p dir="RTL">اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ</p>
<p><em>Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) dari-KU (Allah) dan Aku darimu.</em> (<em>Tadzkirah</em>, halaman 436).</p>
<p>Astaghfirullah… sebegitu sesatnya. Namun anehnya, orang-orang liberal bahkan ada yang julukannya kyai tokoh NU masih pula tidak malu membela Ahmadiyah. (lihat nahimunkar.com 30 April 2008,  <a title="Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah" href="http://nahimunkar.com/9804/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/">Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah</a> <a href="http://nahimunkar.com/9804/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/">http://nahimunkar.com/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/</a>)</p>
<p>Sesatnya kitab Tadzkirah itu dan rangkaiannya, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul <strong><em>Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, </em></strong>terbitan Saudi Arabia, dan terbitan Surabaya, Pustaka Nahi Munkar. (<em>Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).</em></p>
<p><strong>dicopas dari: (<a href="http://nahimunkar.com/9804/surat-surat-soekarno-kepada-a-hassan-kekaguman-pada-wahabi/">nahimunkar.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/hebat-bung-karno-pun-mengagumi-wahhabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lika-liku (4)</title>
		<link>http://basweidan.com/lika-liku-4/</link>
		<comments>http://basweidan.com/lika-liku-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 17:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[arab]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.wordpress.com/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[Hmm&#8230; agaknya ada sedikit kejadian menarik yg terlewat ketika Ahmad menghadiri daurah Syaikh yg dari Unaizah tsb di Ponpes DS Boyolali. Ketika itu, isu terorisme sedang gencar2nya digalakkan oleh AS dan sekutu2nya. Maklum, tragedi 11 September baru berselang beberapa bulan, karena daurah Syaikh tsb dilakukan pada th 2002. Ahmad masih ingat sebuah pertanyaan dari salah<a class="rmore" href="http://basweidan.com/lika-liku-4/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm&#8230; agaknya ada sedikit kejadian menarik yg terlewat ketika Ahmad menghadiri daurah Syaikh yg dari Unaizah tsb di Ponpes DS Boyolali. Ketika itu, isu terorisme sedang gencar2nya digalakkan oleh AS dan sekutu2nya. Maklum, tragedi 11 September baru berselang beberapa bulan, karena daurah Syaikh tsb dilakukan pada th 2002.<span id="more-529"></span></p>
<p>Ahmad masih ingat sebuah pertanyaan dari salah seorang santri yg menanyakan bagaimana pendapat Syaikh tentang perbuatan belasan pemuda Al Qaidah yg menjadi kambing hitam tragedi tsb. Syaikh  mengatakan: &#8220;Ana syakhsiyyan laa uwaafiq &#8216;ala mitsli haadzihil &#8216;amaliyyaat&#8230; Hal hum syaawarul &#8216;ulama&#8217; qabla dzaalik?&#8221; (Saya pribadi tidak setuju dengan perbuatan semacam itu. Apakah mereka bermusyawarah terlebih dahulu dengan para ulama sebelum melakukannya?&#8221;) tentu saja jawabannya tidak. Akan tetapi Ahmad menyela: &#8220;Ya Syaikh, laakin lam yatabayyan ba&#8217;du manil qaa-imuuna bihaadzihil &#8216;amaliyyat?&#8221; (Syaikh, tapi kan belum jelas siapa yg benar-benar menjadi dalang perbuatan tsb?). Syaikh pun mengatakan: &#8220;Kalaam fulaan jamiil&#8221; (Ucapan si fulan bagus&#8230;).</p>
<p>Akan tetapi setelah sesi tanya jawab berakhir&#8230;. sebelum majelis bubar, segera saja ustadz M selaku mudir ma&#8217;had memberi sedikit &#8216;pencerahan&#8217; (baca: pembelaan), dengan mengatakan yg intinya bahwa itu adalah pendapat syaikh pribadi, akan tetapi Al Qaedah itu bukan teroris&#8230; (atau kurang lebih seperti itulah maknanya).</p>
<p>Singkat cerita, kita kembali ke sambungan bagian sebelumnya, akhirnya Ahmad bisa berangkat ke Unaizah beberapa bulan kemudian. Setibanya di Unaizah, lima hari berikutnya terjadilah tragedi Bom Bali yg terkenal itu&#8230; dengan sekejap, nama-nama seperti Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi segera terkenal. Demikian pula Ngruki yg sempat menjadi almamater mereka, dan tentunya ABB juga dikaitkan secara tidak langsung.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, penangkapan demi penangkapan atas &#8216;aktivis islam&#8217; gencar dilakukan oleh aparat. Bahkan Ahmad mendapat kiriman sms yg sangat mengejutkan, ketika salah seorang sahabatnya yang alumni Ma&#8217;had Ali  tiba-tiba diberitakan telah mati di tangan aparat. SMS itu berbunyi: &#8220;Inna lillaahi wa inna ilaihi roji&#8217;un. Si Fulan mati dibunuh thaghut&#8221;. Singkat. Namun ibarat petir di siang bolong, sms itu segera menimbulkan rasa geram di hati Ahmad terhadap &#8216;thaghut&#8217; yg membunuh sahabatnya tsb.</p>
<p>Waktu pun terus berlalu&#8230; sejak hari pertama Ahmad di Unaizah, Ahmad mendapatkan lingkungan yg sama sekali berbeda dengan lingkungan SMA-nya dulu. Para <em>thullaabul &#8216;ilm </em>yang indekos di asrama tempat Ahmad tinggal (letaknya persis di seberang Al Jaami&#8217;ul Kabier, yg dikenal juga dengan Jaami&#8217;usy Syaikh Ibn Utsaimin, karena di mesjid itulah sehari-harinya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjadi imam dan memberikan pengajian dulunya); benar-benar jauuh berbeda dengan teman2 SMA-nya dulu. Mereka sangat menjaga tutur kata dan sikap&#8230; Bahkan tradisi berpakaian mereka sangat sopan dan rapi. Tak ada seorang pun dari mereka yg berani keluar kamar tanpa penutup kepala&#8230; atau memakai kaus dan celana panjang, kecuali kalau hendak berolah raga.<br />
Pernah ada suatu kejadian aneh yg juga menarik&#8230; yaitu ketika Ahmad baru saja pindah ke asrama, ia membawa seperangkat alat masak dan beberapa makanan khas Indonesia. Spt indomie, kecap, minyak goreng, telur, dll. Melihat &#8216;bawaan yg aneh tsb&#8217;, Ketua asrama hanya tersenyum&#8230; dia memaklumi bahwa kebiasaan orang asia tenggara ialah memasak sendiri. Akan tetapi kemudian Ahmad tahu bahwa orang Arab terkadang &#8216;alergi&#8217; dengan bau sebagian masakan Indonesia. Akhirnya Ahmad sekedar menghabiskan saja apa yg dibawanya, lalu tidak memasak lagi. Sebab ternyata asrama menyediakan makan tiga kali sehari dengan menu yg berganti-ganti tiap hari.<br />
Ruang makan terletak di lantai dasar dengan bentuk memanjang (sekitar 20 m). Hari pertama Ahmad hendak ikut makan, dia sengaja memakai baju kaus karena gamisnya hanya beberapa buah dan khawatir kotor terkena makanan. Ia juga sekedar mengenakan sirwal atau celana panjang santai. Akan tetapi begitu ia masuk ke ruang makan, dari ujung ke ujung pandangan orang tertuju kepadanya&#8230; Tapi Ahmad cuek saja karena merasa tidak ada yg aneh pada dirinya. Namun akhirnya ketua Asrama memanggilnya dan bertanya: &#8220;Berapa gamis (tsaub) yg antum miliki?&#8221;. &#8220;Dua&#8221; jawabnya. &#8220;Hmm&#8230; di gudang ada sejumlah gamis yg sudah dicuci, kamu bisa mengambil satu lagi&#8221; katanya.<br />
Ahmad pun sadar bahwa semestinya ia selalu pakai gamis begitu keluar dari kamar.</p>
<p>Asrama yg terdiri dari 4 lantai tersebut juga berhadapan langsung dengan pasar sayur &amp; buah utama di kota kecil tersebut, karena letaknya memang di pusat kota. Mesjid Syaikh Utsaimin merupakan mesjid terbesar di kota itu, dan salah satu menaranya sengaja dibiarkan seperti aslinya, yang masih terbuat dari tanah liat dan kayu dan berbentuk mirip kerucut. Di sekeliling mesjid terdapat tanah lapang dan ada dua buah mesjid kecil tradisional, juga berdinding tanah dan beratap daun kurma, namun telah dilengkapi penerangan dan sejumlah Air Conditioner. Memang, salah satu keistimewaan bangunan dari tanah ialah bersifat &#8216;sejuk&#8217; di musim panas, dan &#8216;hangat&#8217; di musim dingin.</p>
<p>Tanah lapang itu juga dipergunakan sebagai <em>haraaj</em> atau pasar loak kagetan setiap hari Jum&#8217;at.<br />
Di kota &#8216;Unaizah tsb, Ahmad mulai berubah sedikit demi sedikit. Kemampuan bahasa Arab pun dengan cepat terasah, karena memang dia tidak tinggal satu kamar dengan orang Indonesia, namun teman sekamarnya adalah orang Sudan dan Filipina. sedangkan kamar-kamar sebelahnya dihuni oleh orang Yaman dan Saudi.</p>
<p>Hari demi hari berlalu dan banyak ilmu yang Ahmad peroleh dari para syaikh pengajar di Mesjid Jami&#8217; Ibn Utsaimin tsb, dan mereka semua adalah murid-murid senior Syaikh Utsaimin rahimahullah. Mereka ada tiga orang, yaitu Syaikh Abdurrahman Ad Dahsy, Syaikh Khalid Al Muslih, dan Syaikh Sami As Suqair. Dua yg terakhir adalah murid sekaligus menantu Syaikh Utsaimin. Syaikh Abdurrahman memiliki keistimewaan dari sisi akhlaknya yg luar biasa, sedangkan Syaikh Khalid terkenal dengan kedekatannya dengan thullab, adapun Syaikh Sami terkenal dengan kemiripan gaya mengajarnya dengan gaya guru sekaligus mertuanya, yaitu Syaikh Ibn Utsaimin.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman ketika itu mengajarkan nahwu (alfiyah Ibnu Malik) dan syarah Umdatul Ahkam. Sedangkan Syaikh Khalid mensyarah kitabut Tauhid dan Tafsir As Sa&#8217;dy. Adapun Syaikh Sami mensyarah kitab fiqih Hambali, yaitu Zaadul Mustaqni&#8217;.</p>
<p>Bagi Ahmad, pembahasan kitab2 tadi terkesan sulit difahami karena sudah level menengah ke atas&#8230; akhirnya Ahmad bergabung dengan daurah singkat yg diadakan bagi para pemula, lalu setelah itu ia bergabung kembali dengan halaqah ketiga masyayikh tadi.</p>
<p>Hari demi hari berlalu hingga pada suatu hari, terjadilah pengeboman di Riyadh yg dilakukan oleh para &#8216;teroris&#8217;&#8230; Konon di antara yg terlibat dlm pengeboman jahat tsb adalah warga negara Maroko dan sejumlah warga saudi asal Qassim.</p>
<p>Akhirnya, kitalah yg kena getahnya&#8230; pihak Jawazat (kantor imigrasi) Unaizah segera mengultimatum semua warga asing di Unaizah yg majikannya tidak berada satu kota dengannya, agar kembali ke majikan masing-masing. Akhirnya berantakanlah nasib para thullab&#8230; ada sekitar 90 orang thalib yg harus angkat kaki dari sana, termasuk ketua asrama dan wakilnya. Akan tetapi, Alhamdulillah Ahmad tidak perlu angkat kaki karena majikannya tinggal satu kota dengannya.</p>
<p>Seiring dengan kondusi yg menjadi kurang kondusif, tiba-tiba ada berita bhw pihak keamanan akan mengadakan penggeledahan asrama. Maka semua thalib yg ada diperintahkan untuk mengeluarkan kaset-kaset yg dimilikinya, selain kaset Syaikh Bin Baz dan Syaikh Utsaimin. Demikian pula buku-buku atau tulisan berbau &#8216;jihad&#8217; yg ditulis oleh orang-orang yg tidak dikenal.</p>
<p>tak lama setelah ketegangan tersebut, datanglah sebuah sms dari ibunda Ahmad yg mengatakan bahwa ada sepucuk surat dari luar negeri yg ditujukan kepada Ahmad, dan di dalamnya ada selembar kertas yg terpampang di sana foto Ahmad. Namun karena semuanya berbahasa Arab -dan sayangnya tak seorang pun yg faham bahasa Arab di rumah saat itu-, maka surat tsb akhirnya dibawa ke pesantren terdekat untuk ditanyakan apa isinya. Namun ibu berkata bahwa &#8216;kelihatannya kamu keterima di Madinah&#8217;.</p>
<p>Betapa bahagianya Ahmad mendengar kabar tsb&#8230; ia tak sabar untuk mendengar kepastian berita tadi, sehingga akhirnya menelpon ke solo dan ternyata memang begitulah kenyataannya. Alhamdulillah&#8230; Ahmad sujud syukur seketika dan berseri-seri mukanya&#8230; cita2nya untuk belajar di Madinah akhirnya terkabul juga. Ia segera memberitahukan kabar gembira tsb ke teman2 sekamarnya&#8230; lalu keesokan harinya menghubungi kampus Univ Islam Madinah. Ahmad menanyakan apa yg harus dilakukannya bila ia diterima untuk belajar di Madinah, sedangkan saat ini ia sudah berada di saudi, bisakah ia langsung pindah ke Madinah atau tidak. Ternyata peraturan mengharuskannya untuk pulang dulu ke Indonesia dan mengeluarkan visa baru untuknya sebagai pelajar, karena visa yg dipakainya selama ini adalah visa pekerja.</p>
<p>Ahmad pun segera menghubungi kafil/majikannya dan mengabarkan hal tsb&#8230; akan tetapi sang majikan agak kaget dan tidak mengira sebelumnya bahwa Ahmad hendak meninggalkan Unaizah sblm waktunya bila dirinya diterima di Madinah. Ia mengatakan bhw kedatangan Ahmad ke sini adalah atas biaya yayasan dan dengan kesepakatan bahwa ia akan menetap selama 2 tahun lalu berkhidmat untuk yayasan selama 4 tahun. Akan tetapi setelah negosiasi ringan, akhirnya majikan mengizinkan dengan syarat Ahmad mengembalikan separuh ongkos pengeluaran visa yaitu 1000 Riyal. Dan Alhamdulillah, majikan tidak jadi mewajibkan Ahmad untuk berkhidmat bagi yayasan, karena toh Ahmad hendak melanjutkan studinya di Madinah.</p>
<p>Ahmad kemudian mengabarkan rencananya kepada para masyayikh, dan kebetulan saat itu sedang diadakan daurah musim panas. Maka Syaikh Abdurrahman Ad Dahsy mengatakan agar Ahmad tetap tinggal saja sampai daurah selesai, &#8216;karena kamu tidak akan kesini lagi nantinya&#8217;. Demikian kata beliau.</p>
<p>Akhirnya Ahmad pun mengikuti daurah hingga selesai, lalu sebelum pulang ia meminta nasehat dari ketiga syaikhnya. Baru setelah itu ia pulang lagi ke Indonesia setelah menghabiskan waktu 10 bulan kurang tiga hari.</p>
<p>bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/lika-liku-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri-Ciri Ahlul Haq (Pengikut Kebenaran)</title>
		<link>http://basweidan.com/ciri-ciri-ahlul-haq-pengikut-kebenaran/</link>
		<comments>http://basweidan.com/ciri-ciri-ahlul-haq-pengikut-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 05:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatunnufus]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul haq]]></category>
		<category><![CDATA[ciri]]></category>
		<category><![CDATA[ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basweidan.wordpress.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah: Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut. Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang<a class="rmore" href="http://basweidan.com/ciri-ciri-ahlul-haq-pengikut-kebenaran/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:</p>
<p align="left">Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah:</p>
<ul>
<li>Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut.</li>
<li>Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang terikat (ubudiyyah muqayyadah). Adapun ibadah yang mutlak (ubudiyyah muthlaqah) akan menjadikan pelakunya tidak dikenal dengan nama tertentu dari jenis-jenis ibadah yang dilakukannya. Ia akan memenuhi setiap panggilan ibadah apa pun bentuknya. Dia memiliki ‘saham’ bersama setiap kalangan ahli ibadah. Dia tidak terikat dengan model, isyarat, nama, pakaian, maupun cara-cara buatan.<span id="more-581"></span></li>
<li>Jika ditanya: “Siapa ustadzmu?” jawabnya: “Rasulullah”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa jalanmu?” jawabnya: “ittiba’ ”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa pakaianmu?” jawabnya: “ketakwaan”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa maksudmu?” jawabnya: “Mencari ridha Allah”.</li>
<li>Jika ditanya: “Di mana markasmu?” jawabnya:</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="left"><strong>﴿</strong><strong> </strong><strong>فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾</strong><strong>(النور:36_37)</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="left"><em>Di mesjid-mesjid yang Allah perintahkan agar dibangun dan dimuliakan, serta banyak disebut nama-Nya di sana lewat tasbih dan shalat di pagi maupun petang hari. Merekalah lelaki sejati yang tidak tersibukkan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut terhadap hari Kiamat yang kedahsyatannya dapat memutar balikkan hati dan penglihatan (An Nur: 36-37).</em></p>
<ul>
<li>Jika ditanya: “Keturunan siapa kamu?”, jawabnya: “Keturunan Islam”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa makanan dan minumanmu?” jawabnya (sambil menyitir hadits Nabi tentang unta temuan):</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="left"><strong>ما لك ولها ؟! معها حذاؤها وسقاؤها،ترد الماء وترعى الشجر حتى تلقى ربها</strong><strong>.</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="left"><em>“Apa urusanmu dengannya? Dia punya alas kaki dan tempat minum pribadi… dia bisa mencari makan dan minum sendiri, sampai bertemu dengan pemiliknya kembali”</em></p>
<p align="left"> (Disadur dari: Madarijus Salikin 3/174).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basweidan.com/ciri-ciri-ahlul-haq-pengikut-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

