كتابOrang beriman, jiwa raganya tidak tersibukkan kecuali oleh satu masalah, yaitu tauhid. Mereka berusaha mati-matian untuk menegakkannya dan menumbangkan kekufuran, meski harus menempuh berbagai cara. Mereka adalah manusia yang menghambakan segenap jiwa raganya untuk Allah ‘azza wa jalla, dan mencita-citakan agar semua orang benar-benar menjadi hamba Allah.

            Demikian halnya dengan Sang kekasih Allah, Ibrahim ‘alaihissalaam… Berbagai cara ditempuhnya demi merealisasikan cita-cita nan luhur tersebut. Tak henti-hentinya Beliau mengajak para penyembah berhala itu untuk mengesakan Allah ‘azza wa jalla… terkadang dengan menjelaskan betapa buruknya dosa syirik tersebut, atau mengingatkan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, atau menjelaskan dengan hujjah bahwa seluruh sesembahan tadi adalah batu yang tiada bermanfaat, dan terkadang dengan mengenalkan mereka kepada Allah sebagai satu-satunya ilah yang haq. Demikianlah yang dijelaskan dalam surat Asy Syu’araa’ berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (69) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (71)

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: “Apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya!” (Asy Syu’araa’: 69-71) [1] 

 

Yakni bacakanlah –hai Muhammad- kisah Ibrahim kepada kaummu (orang-orang musyrik) yang mengaku sebagai keturunan Ibrahim dan penerus ajarannya… ceritakanlah bagaimana Ibrahim mengingkari berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya dengan dalih mengikuti ajaran leluhur, sebagaimana praktik kaum musyrikin Mekkah… ceritakan bagaimana Ibrahim menentang upacara sesat tersebut, lalu bertanya dengan nada keheranan: “Apa yang kalian sembah…??”[2]

Sebenarnya, Ibrahim ‘alaihissalaam sudah tahu bahwa mereka adalah penyembah berhala, akan tetapi ia bertanya dalam rangka menampakkan bagi mereka bahwa apa yang mereka sembah tadi pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk disembah. Namun… mereka menjawab sembari menggambarkan kondisi mereka; “kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya…!” sebuah jawaban yang berangkat dari kebodohan yang luar biasa, yang sekaligus menyiratkan suatu kebanggaan… Ya, kebanggaan menjadi penyembah berhala!! [3]

Perhatikan, mereka tak sekedar mengatakan: “Kami menyembah berhala” titik. Akan tetapi menambahnya dengan kata-kata “dan kami senantiasa tekun meyembahnya!”. Hal ini mengingatkan kita bahwa tatkala kesesatan telah bercokol di hati seseorang, ia tak lagi mampu membedakan antara haq dan batil… bahkan kebatilan yang digelutinya pun menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya. Sebab itulah mereka senantiasa tekun menyembahnya siang dan malam.

Benar, kalian jujur dalam hal ini…. karena mereka adalah sesembahan yang tidak membebani kalian apa-apa dan kalian menyembahnya tanpa kesulitan dan konsekuensi apa pun. Mereka tak ubahnya seperti fantasi bagi kalian… kalian senang karenanya, lalu berbuat semaunya atas mereka.

Namun Ibrahim hendak mengingatkan mereka dari kelalaian tersebut… dan menggugah akal mereka yang bebal agar menyadari kekonyolan yang selama ini mereka tekuni…

قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73)

Ibrahim berkata: “Apakah mereka mendengar saat kalian panggil? Atau dapat memberi manfaat dan mencelakakan kalian?” (Asy Syu’araa’: 72-73)

 

Yakni cobalah kalian ingat, adakah selama ini mereka pernah menjawab seruan kalian? Jawablah… pernah kah mereka mendengar atau menjawab panggilan kalian walau sekali saja?? Bukankah syarat minimal yang harus dimiliki oleh ‘tuhan’ ialah mendengar seruan hambanya…?

Benar-benar pertanyaan yang menjadikan mereka diam seribu bahasa…

Namun percayakah Anda bahwa praktek tolol (baca: syirik akbar) semacam ini masih diamalkan oleh jutaan, bahkan ratusan juta kaum muslimin hari ini? Mereka mungkin tidak menyembah berhala berupa patung & arca… berhala yang mereka sembah telah berubah bentuk meski maknanya tetap sama… alangkah pandainya Iblis menyesatkan mereka! Mengagungkan patung tentu merupakan kekufuran yang ditolak oleh seluruh kaum muslimin… karenanya, patung tadi tidak lagi dalam tiga dimensi… ia kini berupa gambar. Gambar siapa? Tentunya gambar tadi tidak boleh berwajah seram… ia harus bisa memberi ‘kenyamanan’ bagi orang yang memandangnya, sekaligus menyiratkan bahwa si empunya foto adalah seorang ‘alim’, ‘shalih’, bahkan ‘wali Allah’ yang konon memiliki segudang karamah! Dengan kepala yang dililit serban, jenggot lebat, jubah putih dan tasbih di tangan; gambar mereka telah menghiasi banyak rumah pengikutnya. Mereka lebih mencintai gambar-gambar tersebut dari pada malaikat yang membawa rahmat[4]; bahkan yang lebih mengenaskan, demi itu semua mereka rela menjadi manusia terjahat di hari kiamat!![5]

Atau… praktek berhalaisme tadi muncul sepeninggal ‘Sang Wali’. Bagaimana bisa begitu? Karena naluri seorang muslim akan menolak ketika melihat ada manusia yang menyembah sesamanya. Namun apa lacur… yang terjadi justeru lebih parah! Mereka mungkin malu untuk bersimpuh di hadapan Sang Wali ketika hidupnya[6]… namun tatkala Sang Wali telah mati, muncullah ide jenius Iblis untuk menyesatkan manusia. Tubuh si wali kini mulai membusuk, otomatis ia tidak akan ‘laku’ dijadikan berhala… maka segeralah Iblis ‘mewahyukan’ kepada bala tentaranya dari kalangan manusia, agar mengubur wali tadi di tempat khusus…

Di manakah gerangan… Di makam pahlawan….? pusat kota….? tempat rekreasi…?

Bukan bukan… tempatnya harus cocok menjadi tempat peribadatan, dan memberikan ‘nuansa Islami’ untuk menutupi praktek berhalaisme itu…

Ia harus dikubur di area mesjid atau kalau perlu di dalam mesjid sekalian!!

Tak cukup sampai di sini, bahkan kuburan tadi harus menarik perhatian orang… harus memberi kesan agung terhadap yang dikubur… harus besar, megah dan indah!

Itu pun belum cukup, bahkan harus diadakan berbagai acara dan peringatan yang menarik bagi para ‘peziarah’… harus ada haul [7], tour ziarah[8], nyadran [9] dan lain sebagainya… [10]

Mereka seakan hendak menyatakan bahwa ini merupakan budaya warisan nenek moyang yang sudah turun temurun dan ‘wajib’ dilestarikan…

Mengapa demikian? Bukankah ini semua adalah kesesatan dan budaya Jahiliyah? Bukankah ini semua yang menyebabkan keterpurukan umat??

قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آَبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

Mereka menjawab: (Iya benar), tapi kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang seperti itu (Asy Syu’araa’: 74)[11]

Memang berhala-berhala ini tidak mendengar, tidak bermanfaat maupun mencelakakan… tapi, orang tua kami dahulu menyembahnya; maka kami pun ikut-ikutan menyembahnya… mereka dahulu membangun dan mengkeramatkan kuburan ini, maka kami pun ikut mengkeramatkannya… dst!

Benar-benar jawaban yang memalukan… tapi, apa boleh buat kalau orang-orang musyrik itu memang tidak tahu malu? Mereka tidak malu sedikitpun menyembah batu… sebagaimana musyrikin zaman ini pun tidak malu menyembah kuburan, yang tidak lain adalah gundukan tanah…

Bagi mereka, jika sesuatu telah mendapat restu dari nenek moyang, kyai, sesepuh, habib atau siapa pun namanya, maka cukuplah itu sebagai alasan untuk diamalkan tanpa harus diteliti lebih lanjut…

Mereka memang ‘kawakan’ dalam kesesatan, dan di saat yang sama mereka ibarat kerbau yang dicocok hidungnya; sekedar mengikuti tanpa berpikir sedikit pun…

Kita sekedar mengikuti… inilah hujjah dan senjata utama mereka. Inilah alasan setiap orang yang terjerumus dalam khurafat dan kemusyrikan.

Untuk mengubah pola pikir yang beku semacam ini membutuhkan gebrakan keras dan tekad yang bulat. Karenanya, Ibrahim ‘alaihissalaam yang penyabar pun kini harus menggertak kaumnya dan menyatakan permusuhannya terhadap berhala dan keyakinan rusak mereka…

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77)

Ibrahim ‘alaihissalaam berkata: “Tidakkah kalian perhatikan apa yang kalian sembah itu? (yaitu sesembahan) kalian dan orang tua kalian yang terdahulu? Sesungguhnya mereka adalah musuhku, kecuali (Allah) Rabbul ‘alamien (Asy Syu’araa’: 75-77)

 

                        Begitulah masalah akidah… kadang mengharuskan seseorang untuk berhadapan dengan orang tua dan masyarakat sendiri, bahkan harus memusuhi mereka secara terang-terangan dalam kondisi seperti ini… Iya, walau mereka adalah sesepuh dan nenek moyang kita…

                        Demikianlah Al Qur’an mengajarkan agar seorang mukmin tidak kompromi dalam masalah akidah… walau demi ayah dan kaum sendiri. Lantas bagaimana jika yang diajak kompromi adalah orang yang jauh dan musuh bebuyutan??

                        Bagaimana pula jika akidah dan prinsip dikorbankan demi partai… demi meraih suara terbanyak dalam Pilkada, Pemilu, dan ‘pesta demokrasi’ lainnya?? Semurah itukah akidah di mata kaum muslimin hari ini?

                        Kalaulah kita harus mengingat satu hal dari kisah diatas, maka ingatlah bahwa ikatan yang sesungguhnya ialah ikatan akidah, bukan kebangsaan, kekerabatan, kesukuan, kepartaian dan lain sebagainya…. ingatlah bahwa nilai utama yang harus diperjuangkan adalah tauhid, sedangkan nilai-nilai lainnya haruslah tunduk kepadanya.

                        Setelah melontarkan argumentasi yang demikian kuat, mereka tetap saja bersikukuh dengan kesesatannya; karenanya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam kini harus mengambil sikap tegas… sikap seorang mukmin sejati dalam mempertahankan prinsip dan akidah, meski harus mengorbankan persatuan dan kesatuan… bahkan lebih dari itu, keluarga dan kaum kerabat pun siap dikorbankan! Dengan lantang beliau mengatakan: “Sesungguhnya mereka adalah musuhku, kecuali (Allah) Rabbul ‘alamien”.

                        Mengapa ia menganggap berhala-berhala batu itu sebagai musuh? Adakah mereka mampu mencelakainya? Tentu tidak… akan tetapi Ibrahim hendak menggambarkan pabila beliau sampai menyembah berhala tersebut, berarti telah menyembah musuh sendiri[12], atau menyembah syaithan yang mengajak manusia kepada kemusyrikan, dan dialah musuh yang sesungguhnya.

                        Dengan pernyataannya tersebut, Ibrahim ‘alaihissalaam seakan menujukan nasehat itu kepada dirinya terlebih dahulu, lalu bertolak dari sana ia mengatur langkah berikutnya… ia hendak mengajak mereka untuk berfikir dan sadar bahwa Ibrahim hendak menasehati mereka sebagaimana menasehati diri sendiri, dan menginginkan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya. Hal ini tentu lebih mudah mereka terima dan lebih enak didengar… lain halnya jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mengatakan: “Sesungguhnya mereka adalah musuh kalian, tentu akan berbeda kesannya. Karenanya, ia sekedar menyindir tanpa berterus terang… sebab sindiran kadang lebih mengena dari pada sikap blak-blakan.

                        Ini merupakan pelajaran penting bagi setiap juru dakwah… hendaknya jangan langsung menyalahkan, memvonis dan blak-blakan dalam masalah tertentu; namun pakailah sindiran yang mengajak pendengarnya untuk berfikir dan merenung, karena yang demikian lebih mudah diterima mereka. Sebagaimana yang konon dikatakan Imam Syafi’i tatkala ada orang yang bersikap kasar kepadanya… “Kalaulah perbuatanmu ini aku yang melakukannya, pastilah aku pantas diberi pelajaran…”. Contoh lainnya seperti ketika Anda lewat di samping orang-orang yang ribut ngobrol dalam mesjid, katakanlah: “Ini bukan rumahku maupun rumah kalian…”.[13]

                        Adapun perkataan beliau: “kecuali Allah Rabbul ‘alamien…”, menurut mayoritas ahli nahwu ini merupakan pengecualian yang terputus (istisna’ munqathi’), yang maknanya: “kecuali Allah Rabbul ‘alamien, maka Dia lah pelindungku dan sesembahan yang sesungguhnya”. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka selain menyembah berhala juga menyembah Allah (musyrik), karenanya Ibrahim menganggap bahwa sesembahan mereka seluruhnya adalah musuh kecuali Allah.[14] [15]

                       

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)

Yaitu Yang telah menciptakanku kemudian Dia memberiku petunjuk; Dia lah Yang memberiku makan dan minum… Dan pabila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku. (Dia lah) Yang akan mematikanku kemudian menghidupkanku kembali (Asy Syu’araa’:78-81).

 

            Dalam rangkaian ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla seakan mengatakan kepada mereka: “Hai orang-orang bodoh… tidakkah kalian tahu bahwa ibadah itu memiliki alasan dan sebab-sebab?”, lalu Ibrahim ‘alaihissalaam menjelaskan alasan dan sebab-sebab mengapa ia beribadah kepada Tuhannya… Yaitu (Dzat) yang telah menciptakanku dari ketiadaan dan memberiku segalanya setelah sebelumnya aku tak memiliki apa-apa. Dari-Nya lah turun segala aturan yang memelihara dan menjaga keselamatanku lewat perintah dan larangan-Nya… sedangkan Dia sedikitpun tak mengambil manfaat dari itu semua, akan tetapi manfaatnya kembali kepada kita.

Adakah berhala-berhala kalian mampu melakukan salah satu darinya? Jikalau tidak, maka hanya Allah lah yang berhak kalian sembah…

Kemudian Dia memberiku hidayah[16], yakni terhadap segala yang menjadi kebaikanku… Ya, sebab Dia lah penciptaku maka Dia lah yang paling tahu akan diriku. Semuanya telah tertulis dalam ‘undang-undang’ yang diturunkan-Nya. Karenanya, jadikanlah ia sebagai rujukan dalam memecahkan setiap masalahmu dan jangan merujuk ke selain-Nya yang tidak mengetahui apa-apa tentang dirimu… sungguh tidak layak jika Allah yang menciptakan namun kalian yang membikin aturan…

Tak sekedar itu, bahkan setiap hal yang menjamin kelangsungan hidup telah diberikan-Nya… Dia lah Yang memberiku makan dan minum; dan pabila aku sakit[17], maka Dia lah yang menyembuhkanku

Sekarang marilah kita renungi ada apa di balik kata ( هُوَ = ‘dia’ ) yang disebutkan berulang kali dalam ayat-ayat ini? Kata ini dalam bahasa Arab berfungsi sebagai penegas (taukid) yang tidak muncul begitu saja, akan tetapi sesuai dengan kadar pengingkaran.

Dalam ayat-ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla menegaskan bahwa petunjuk, makan, minum dan kesembuhan semuanya berasal dari-Nya. Mengapa demikian? Karena keempat hal tadi kadang kala diklaim oleh selain-Nya. Misalnya ada sebagian orang yang mengira bahwa kesembuhan itu dari dokter dan rezeki itu dari orang tua. Demikian pula hidayah (petunjuk) yang sering diklaim oleh tokoh-tokoh pemikiran yang meletakkan ajaran/sistem tertentu seperti kapitalisme, komunisme, liberalisme, demokrasi dan lain-lain… masing-masing mengklaim bahwa sistemnya lah yang paling cocok untuk mengatur manusia, dan masing-masing mengklaim sebagai yang paling baik dalam membimbing manusia…

Karenanya, Allah menegaskan bahwa masalah hidayah semata berasal dari-Nya dan hanya terdapat dalam syariat-Nya.

Mungkin ada yang bertanya: “Kalaulah kesembuhan itu dari Allah semata, lantas untuk apa kita ke dokter?” Jawabnya ialah bahwa dokter sekedar mengobati dan mengusahakan sebab-sebab kesembuhan, sedangkan kesembuhan itu sendiri adalah dari Allah. Buktinya dokter juga bisa sakit, dan ketika itu dia tidak dapat menyembuhkan dirinya… atau ia keliru memberi obat hingga si pasien malah celaka!

Demikian pula dengan rezeki makan dan minum, pada hakikatnya semuanya berasal dari Allah dan orang tua hanyalah perantara. Sebab itu mereka juga merasakan lapar dan dahaga, dan tidak bisa menghilangkan keduanya dengan sendirinya… bahkan suatu ketika mereka justeru mati karena kelaparan atau kehausan.

Akan tetapi ketika masalahnya mutlak milik Allah dan tidak seorang pun pernah mengklaimnya, kata ( هُوَ = ‘dia’ ) tidak muncul lagi; seperti pada ayat-ayat berikutnya yang berbicara tentang mematikan, menghidupkan dan mengampuni.[18]

 

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82)

dan (Dia lah) Yang sangat kuharap akan mengampuni kesalahku pada hari kiamat

(Asy Syu’araa’: 82)

            Sungguh ajaib ketika Ibrahim ‘alaihissalaam berdoa seperti itu… tahukah Anda siapa Ibrahim ‘alaihissalaam? Dialah bapak para nabi yang oleh Allah disifati sebagai pemimpin yang taat kepada Allah dan tidak pernah menyekutukan-Nya… dialah hamba yang diuji oleh Allah dengan beberapa perintah maka dilakukannya dengan sempurna… akan tetapi, pun demikian beliau masih mengatakan: “(Dia lah) Yang sangat kuharap akan mengampuni kesalahku pada hari kiamat…”.  

            Demikianlah Ibrahim ‘alaihissalaam mengajarkan kepada kita bagaimana beretika di hadapan Allah ‘azza wa jalla. Semua amalnya ia anggap tak berarti… sebab seberapa pun besarnya, toh ia masih belum memenuhi hak Allah atas dirinya, karenanya ia tamak terhadap maghfirah Allah.

            Namun ada yang harus kita perhatikan di sini; kapan Ibrahim berdoa dan merendah seperti ini di hadapan Allah? Jawabnya ialah setelah menyebutkan alasan harusnya menyembah Allah semata, dan pengakuannya atas segenap karunia Allah sebelumnya… benar, Dia lah yang menciptakannya dan menyediakan baginya semua sarana penunjang kehidupan.

            Pabila seorang hamba telah mengakui segala karunia Allah, maka sirnalah kesombongan dirinya dan bersihlah jiwa raganya… nah, saat itulah ia layak untuk bermunajat dan memohon kepada Allah. Setelah Anda mengakui segala kenikmatan Allah sebelumnya, baru Allah akan memberikan kenikmatan berikutnya yang Anda minta.

            Lain halnya dengan orang yang tidak pernah menyebut kenikmatan Allah sebelumnya dan tidak mengakuinya… bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? Kemudian dengan alasan apa ia memohon kenikmatan lebih banyak?

Karenanya, Ibrahim yang merupakan bapaknya para nabi tidak berani meminta kenikmatan apa pun berikutnya sebelum menyebut kenikmatan-kenikmatan sebelumnya dan mensyukurinya. Persis seperti firman Allah yang artinya: “Jika kalian bersyukur, maka pasti akan kutambah (nikmat-Ku) untuk kalian” (Ibrahim: 7).

            Sebab itu, sebagian ahli ma’rifah mengatakan: “Bagaimana pun kesungguhan seorang hamba dalam berdoa, ia tetap saja berdoa berdasarkan pemahaman dan bahasanya yang sesuai dengan kadar ilmunya. Seandainya ia menyebut karunia pertama Allah atas dirinya dan mengakui keutamaan-Nya, kemudian menyerahkan persoalan dirinya kepada Allah sesuai dengan pilihan-Nya; pastilah Allah akan memberinya yang terbaik, karena Allah akan memberi sesuai dengan kemampuan dan hikmah-Nya”.

Jelas, sebab karunia Allah pasti lebih luas dan pilihan-Nya pasti lebih baik dari pada pilihan seseorang bagi dirinya. Demikian halnya tatkala Anda hendak ke luar negeri… kalau Anda tawarkan kepada putera Anda: “Nak, kamu mau oleh-oleh apa dari luar negeri?” dan ia menjawab: “Aku mau ini dan itu…”, berarti ia telah membatasi dirinya sendiri. Lain halnya jika ia menyerahkan oleh-oleh itu kepada Anda, pasti Anda akan membelikan yang lebih baik baginya dari pada yang ia minta tadi. [19]

            Kesimpulannya, janganlah memohon kepada Allah sebelum membersihkan diri dan memurnikan tauhid kepada-Nya, kemudian akuilah segala kenikmatan yang Ia berikan kepada Anda, lalu serahkanlah segala persoalan kepada-Nya dan yakinlah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk Anda.

            Setelah menghaturkan puji-pujian kepada Allah, barulah Ibrahim berdoa untuk dirinya…[20]

 

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83) وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآَخِرِينَ (84) وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) [الشعراء/69-89]

 

(Ibrahim berdoa): “Ya Rabbi berilah aku ilmu dan ikutkan aku ke dalam golongan orang-orang shalih. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi Surga yang penuh kenikmatan… dan ampunilah ayahku, sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat, serta janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan; yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tiada berguna (lagi), kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Asy Syu’araa’: 75-89).

 

            Ibrahim ‘alaihissalaam mengatakan: “Ya Rabbi”… yakni: wahai Dzat yang senantiasa berbuat baik dan mengurusku; “berilah aku ilmu dan ikutkan aku ke dalam golongan orang-orang shalih…”

Perhatikan, Ibrahim ‘alaihissalaam tidaklah meminta sesuatu yang sifatnya duniawi… akan tetapi ia meminta (حُكْمًا) yakni ilmu yang bermanfaat, pemahaman dan kekuatan untuk mengamalkannya[21]. Lalu meminta agar dirinya ‘diikutkan’ ke dalam golongan orang-orang shalih… aneh! Bukankah dia seorang Nabi yang levelnya jauh di atas itu? bahkan bukan cuma Nabi, tapi satu diantara lima ulul ‘azmi[22]… bahkan satu diantara dua kekasih Allah??[23] Mengapa hanya minta ‘diikutkan’…?

Demikianlah puncak ketawadhu’an yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam… betapapun besarnya pengabdian beliau demi menegakkan tauhid dan sederet ‘gelar kehormatan’ yang telah beliau raih seperti: abul anbiya’, khalilullah, ummatan qaanitan lillah, haniefan[24]…dll; toh beliau tetap menganggap dirinya belum mencapai derajat keshalihan yang sempurna, makanya minta agar diikutkan saja kepada mereka…[25]

            Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia berfirman:

وَإِنَّهُ فِى الاْخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Sesungguhnya dia (Ibrahim) termasuk orang-orang yang shalih di akhirat (Al Baqarah: 130)

            Subhanallaah… lantas di manakah posisi manusia macam kita yang berlumuran dosa ini?? Pantaskah kita merasa telah menjadi orang ‘shalih’? Dengan modal apakah kita hendak mendapatkan predikat ‘shalih’ tadi?

Kemudian beliau mengatakan: “Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”, dan Allah ‘azza wa jalla pun memperkenankan doanya lewat firman-Nya:

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى لآخِرِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (Ash Shaaffaat: 108).

            Sebab itulah seluruh umat beragama baik Yahudi, Nasrani maupun Islam menaruh hormat pada beliau dan menyanjungnya. Bahkan lebih dari itu, beliau menjadi bapak para nabi, karena setiap nabi yang diutus setelah beliau adalah dari keturunannya… Bahkan dari sulbi beliau lah Allah mengutus manusia yang paling dicintai-Nya, yaitu Rasulullah Muhammad e. Beliau bersabda:

أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيْمَ…

Akulah yang dimaksud dalam doa ayahku Ibrahim ‘alaihissalaam …[26]

Usai meminta kebahagiaan duniawi berupa ilmu dan buah tutur yang baik, beliau mengharap kebahagiaan ukhrawi dengan mengatakan: “Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi Surga yang penuh kenikmatan…”, artinya yang menghuni surga tersebut dan kekal di dalamnya. Beliau ‘alaihissalaam menyerupakannya dengan warisan yang didapat semata-mata karena karunia Allah tanpa jerih payah dari si ahli waris… dan memang seperti itulah hakikatnya. Betapa pun besar dan banyaknya amalan seorang hamba, tetaplah terlalu murah untuk ‘membeli’ Jannah… ia takkan mendapatkannya kecuali dengan ‘subsidi’ rahmat yang tak terhingga dari Allah ‘azza wa jalla.

            Atau, Beliau menyerupakan masuk Jannah dengan mendapat warisan ialah karena Jannah tadi didapat setelah amalnya terputus dan pelakunya wafat, sebagaimana ahli waris menerima warisan sepeninggal yang mewariskan[27], wallahu a’lam.

 

Kemudian, usai meminta kebahagiaan dunia dan akhirat bagi dirinya, Ibrahim berdoa untuk orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu ayah kandungnya… beliau mengatakan:

dan ampunilah ayahku, sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat,

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa doa tersebut beliau ucapkan karena telah berjanji sebelumnya untuk memohonkan ampun bagi ayahnya, yaitu sebelum beliau tahu bahwa sang ayah adalah musuh Allah. Akan tetapi setelah jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, beliau pun berlepas diri darinya. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa doa ini mengandung permintaan secara tidak langsung agar ayahnya diberi hidayah untuk masuk Islam, sebab ampunan Allah tidak akan diberikan kepada orang musyrik.[28]

 

serta janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan;

      Yakni janganlah Engkau siksa ayahku, atau membangkitkannya di hari kiamat bersama orang-orang sesat[29]… jangan pula Kau menyiksaku karena sedikitnya amalku, atau memberiku kedudukan lebih rendah dibanding orang lain, karena itu semua akan menghinakan dan mempermalukanku di hari Kiamat …

      Benar, tak seorangpun tahu bagaimana akhir dari segalanya dan akankah ia lolos dari siksa Allah kelak… karenanya, tak heran jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam berdoa seperti itu agar menjadi tauladan bagi kita.[30]

Kemudian Allah menggambarkan secuil dari kedahsyatan hari kebangkitan tersebut dengan mengatakan:

 

(yaitu) hari ketika harta dan anak-anak tiada berguna (lagi), kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih

Benar, hari itu harta dan keluarga tiada berguna lagi… harta telah sirna dan keluarga tak lagi bersua, masing-masing tersibukkan dengan urusan dirinya. Anak yang selama ini selalu bersama kelak akan lari dari kita, demikian pula orang tua, saudara, kerabat, suku maupun bangsa.

Hari itu hanya satu yang akan bermanfaat bagi kita di hadapan Allah kelak, yaitu hati yang selamat… yang mendorong orangnya untuk menginfakkan harta di jalan Allah dan mendidik diri dan anak-anaknya agar mengesakan Allah… yang selamat dari segala bentuk kemunafikan dan kekafiran, yang bersih dari keyakinan sesat dan kecenderungan terhadap dunia dan syahwatnya, kemudian membuktikannya dengan amal shalih, kelak itulah yang akan bermanfaat baginya.[31]

 

Sebelum mengakhiri kisah di atas, marilah kita renungi beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya lewat poin-poin berikut:

  1. Sebagai seorang Nabi, Ibrahim ‘alaihissalaam tidak kecil hati melihat kenyataan bahwa ayah dan kaumnya adalah penyembah berhala… ia memisahkan diri dari kesesatan kaumnya, dan terang-terangan menyatakan permusuhannya terhadap sesembahan mereka yang batil tersebut.

Demikianlah Al Qur’an mengajarkan kepada orang-orang yang beriman agar jangan kompromi dalam masalah akidah, walau terhadap ayah sendiri! Karena ikatan yang pertama harus dijaga adalah ikatan akidah, dan harta yang paling berharga adalah keimanan.

  1. Seorang mukmin dan da’i sejati mestilah hati-hati dalam berbicara. Ia harus teliti tatkala bicara masalah akidah terutama yang berkenaan dengan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini dicontohkan oleh Ibrahim ‘alaihissalaam ketika mengecualikan Allah dari sesembahan kaumnya yang ia musuhi, sebab boleh jadi ada diantara leluhur kaumnya yang menyembah Allah semata. Sama halnya ketika menisbatkan penyakit kepada dirinya dan kesembuhan kepada Allah; demikian pula ketika menggunakan kata ‘dia’ untuk menegaskan keesaan Allah dalam masalah hidayah, makan, minum dan penyembuhan.
  2. Kita dapat merasakan betapa kuat hubungan antara Ibrahim dengan Allah tatkala ia menceritakan sifat-sifat Allah tadi kepada kaumnya… hubungan yang senantiasa erat di setiap waktu, tempat, hajat dan tujuan… ini merupakan pelajaran besar bagi orang beriman agar memperkuat hubungannya dengan Allah ‘azza wa jalla di setiap sisi kehidupan, dan merasa bahwa Allah senantiasa mengawasinya setiap saat.
  3. Ibrahim ‘alaihissalaam mengajarkan kepada kita bagaimana semestinya bersikap di hadapan Allah. Beliau yang telah menjadi kekasih Allah, Rasul-Nya, Nabi-Nya dan orang yang demikian mengenal-Nya, ternyata harapan terbesarnya cuma agar Allah mengampuni segala kesalahannya di hari kiamat… ia sama sekali tidak pernah menganggap dirinya suci, namun senantiasa khawatir akan dosa yang tersisa… ia tak pernah bersandar kepada amal shalihnya, bahkan tidak memandang bahwa dirinya pantas mendapat apa pun atas amalan tersebut selain karunia Allah dan rahmat-Nya.

Demikianlah puncak ketawadhu’an dan kerendahan diri… sebuah pelajaran nyata yang amat berharga bagi setiap da’i yang ‘mengobral’ Surga dan rahmat Allah dalam dakwahnya… tidak, sama sekali tidak semudah itu! Kita haruslah jujur terhadap diri sendiri dan tahu diri, agar benar ketika bermuamalah dengan Allah… yaitu muamalah yang dilandasi sikap takwa, sopan santun dan muraqabah[32].

  1. Seorang mukmin sejati hatinya hanya tertuju ke akhirat meski dunia di tangannya. Karenanya, Ibrahim ‘alaihissalaam tidak menyebut nilai-nilai duniawi dalam doanya, akan tetapi sesuatu yang jauh lebih tinggi… ia memohon ilmu, keshalihan, buah tutur yang baik hingga akhir zaman, Surga dan ampunan Allah… sebuah doa yang muncul dari hati yang demikian mengenal Tuhannya lalu pasrah dan meninggalkan dunia…[33]

 

 

To be continue…

 

 


[1]  Kisah serupa juga disebutkan dalam surat Al Anbiya’ yang diawali dengan pujian Allah kepada Nabi Ibrahim  ‘alaihissalaam lewat firman-Nya: “Sunnguh Kami telah memberinya hidayah kebenaran sebelumnya, dan Kami benar-benar mengenalnya” (ayat 51). Ayat ini menyiratkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam memang pantas untuk mendapatkan karunia tersebut, dan hal ini terbias tatkala ia berkata kepada ayah dan kaumnya: “Patung-patung apa ini yang kalian selalu tekun menyembahnya?!” (ayat 52). Sebuah pertanyaan sindiran yang menggugah kesadaran… Beliau pura-pura tidak tahu terhadap patung-patung tadi, padahal beliau faham bahwa mereka amat mengagungkannya; demikianlah cara beliau melecehkan sesembahan batil mereka… kemudian Beliau menyatakan dengan terus terang: “Sungguh, kalian dan nenek moyang kalian benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (ayat 53) , yakni baik pengikut maupun yang diikuti semuanya sesat karena sekedar mengikuti hawa nafsu tanpa dalil. (lihat: Al Kasysyaf 3/122-123).

Sedangkan dalam surat Al An’am Allah U berfirman: “Ingatlah tatkala Ibrahim berkata kepada Azar ayahnya; Apakah kau hendak menjadikan patung-patung ini sebagai ilah (sesembahan)? Sungguh jika demikian, aku memandang kamu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata” (ayat 74).

[2] Lihat: Nadhmud Durar, 5/90 dengan perubahan.

[3]  Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa jumlah berhala tersebut adalah 72 buah. Sedang yang dimaksud dengan berhala (صَنَمٌ) ialah patung dengan rupa manusia (Lihat: Hadaaiqur Ruuhi war Raihaan 20/218).

[4]  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ radhiyallaahu ‘anha قال: دَخَلَ الَّنِبُّي shallallaahu ‘alaihi wasallam البَيْتَ فَوَجَدَ فِيْهِ صُوْرَةَ إِبْرَاهِيْمَ وَصُوْرَةَ مَرْيَمَ فَقَال ( أَمَّا هُمْ فَقَدْ سَمِعُوْا أَنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتاً فِيْهِ صُوْرَةٌ، هَذَا إِبْرَاهِيْمُ مُصَوَّرٌ فَمَا لَهُ يَسْتَقْسِمُ ) أخرجه البخاري.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anha katanya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam suatu ketika masuk ke dalam Ka’bah lalu mendapati ada gambar Ibrahim dan Maryam di dalamnya. Maka beliau bersabda: “Adapun mereka (musyrikin), sebenarnya telah mendengar bahwa para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang ada gambar (makhluk bernyawa)nya. (Namun) ini Ibrahim ‘alaihissalaam digambarkan sedang mengundi nasib (dengan anak panah), padahal beliau tidak pernah melakukannya” (HR. Bukhari 3351). Dalam hadits muttafaq ‘alaih beliau mengatakan: “Sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang ada gambarnya” (HR. Bukhari no 5958 dan Muslim no 2106). Al Munawi mengatakan bahwa malaikat di sini adalah malaikat pembawa rahmat dan berkah, atau malaikat yang keliling untuk menghadiri majelis ilmu dan semisalnya, dan bukannya malaikat pencatat amal yang selalu hadir atau malakul maut (Faidhul Qadir 2/499). Sedangkan gambar yang dimaksud adalah gambar wajah makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lainnya.

[5]  Alangkah miripnya kondisi mereka dengan yang digambarkan oleh hadits berikut;

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ – فِيهَا تَصَاوِيرُ – لِرَسُولِ اللَّهِ shallallaahu ‘alaihi wasallam فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ shallallaahu ‘alaihi wasallam « إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». متفق عليه.

Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah pernah menceritakan keindahan gereja yang mereka lihat di Habasyah (Ethiopia) kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang di dalamnya ada gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka itu, kalau ada orang shalih diantara mereka yang wafat, mereka bangun mesjid (tempat ibadah) di atas kuburnya dan menghiasinya dengan gambar-gambar. Mereka itulah sejahat-jahat manusia menurut Allah di hari kiamat!” (HR. Bukhari no 427, 434, 1341 & 3873; Muslim no 528).

Dalam syarahnya, Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbaly mengatakan:

فتصوير الصور على مثل صور الأنبياء والصالحين ؛ للتبرك بها والاستشفاع بها محرم في دين الإسلام ، وهو من جنس عبادة الأوثان ، وهو الذي أخبر النبي ( أن أهله شرار الخلق عند الله يوم القيامة ). وتصوير الصور للتآنس برؤيتها أو للتنزه بذلك والتلهي محرم ، وهو من الكبائر وفاعله من أشد الناس عذابا يوم القيامة ، فإنه ظالم ممثل بأفعال الله التي لا يقدر على فعلها غيره ، والله تعالى ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ( [ الشورى : 11 ] لا في ذاته ولا في صفاته ولا في أفعاله سبحانه وتعالى.

Menggambar (wajah) para Nabi dan orang-orang shalih dalam rangka tabarruk (cari berkah) atau mengharapkan syafaat adalah haram menurut ajaran Islam. Perbuatan ini termasuk praktik penyembahan terhadap berhala, dan inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Mereka itu sejahat-jahat manusia menurut Allah di hari kiamat”. Sedangkan menggambar (makhluk bernyawa) untuk merasakan ketentraman saat melihatnya, atau sekedar hiburan dan main-main juga diharamkan, bahkan termasuk dosa besar dan pelakunya termasuk orang yang paling keras siksanya di hari kiamat, karena ia telah berlaku zhalim dan hendak menyerupai perbuatan Allah yang tak ada seorang pun mampu melakukannya selain Dia. Karena Dia lah yang “Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya…” (Asy-Syuro: 11); baik dalam hal dzat, sifat-sifat, maupun perbuatan-Nya (Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari 2/405).

[6]  Meski kenyataanya ada juga sebagian orang yang menuhankan orang yang dianggap wali tersebut! Ia sujud di hadapannya dan mengusap-usap tubuh si ‘wali’ demi mengais berkah… tapi yang kami maksudkan ialah fenomena lain yang lebih marak di masyarakat kita.

[7]  Yaitu peringatan tahunan atas wafatnya seorang habib, ulama, kyai dan semisalnya yang dilakukan di area pemakaman orang yang bersangkutan.

[8]  Seperti tour ziarah ke kuburan Wali Songo.

[9]  Yaitu kebiasaan orang Jawa yang mengunjungi makam orang tua di awal bulan Ramadhan.

[10]  Bahkan ironisnya, sebagian dari mereka yang melestarikan praktik-praktik tadi mengaku sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib (baca: ahlul bait)… mereka lupa atau masa bodoh terhadap wasiat leluhur mereka sendiri, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anha…

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ.

Dari Abul Hayyaj al Asady katanya; Ali bin Abi Thalib pernah berkata kepadaku: “Maukah kamu kuutus untuk melaksanakan misi yang pernah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam perintahkan atasku?” (yaitu): “Jangan kau biarkan patung apapun melainkan kau hapus (hancurkan), dan jangan ada sebuah kubur pun yang ditinggikan melainkan kau ratakan” (HR. Muslim 3/61 nomor 2287).

[11]  Dalam surat Al Anbiya’, jawabannya mirip dengan ini. Mereka mengatakan: “Kami mendapati nenek moyang kami menyembah patung-patung ini” (ayat 53). Duh, alangkah jeleknya taklid buta yang mereka lakukan… alangkah konyolnya orang yang mengikuti pendapat tanpa dalil… alangkah hebatnya tipu daya syaithan terhadap ahli taklid yang pelan-pelan menghasung mereka sampai mengikuti ‘leluhur’ dalam menyembah berhala… cukuplah celaan bagi ahli taklid karena penyembah berhala itu adalah manusia tipe mereka!! (lihat: Al Kasysyaf 3/122).

[12]  Maksudnya sesembahan tersebut akan berbalik menjadi penentang orang yang menyembahnya di hari kiamat kelak, laksana musuh. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “…Sungguh tidaklah demikian, kelak mereka (sesembahan tersebut) akan mengingkari perbuatan orang yang menyembahnya dan berbalik menjadi lawan” (Maryam: 82).

[13] Lihat: Tafsir Al Kasysyaf 3/324 oleh Az Zamakhsyari.

[14] Lihat:  Tafsir Al Baghawy 6/117.

[15] Sedangkan dalam surat Al Anbiya’ (ayat 54-55) Beliau ‘alaihissalaam mengatakan:

{… لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآَبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ @ قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ}

“Kalian dan nenek moyang kalian benar-benar dalam kesesatan yang nyata (jika demikian). Mereka menjawab: “Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran, ataukah engkau hanya main-main?”.  

Maksudnya, begitu mereka melihat pelecehan Ibrahim terhadap sesembahan mereka dan vonisnya atas mereka sebagai orang-orang sesat, mereka yakin bahwa Ibrahim memang serius dalam hal ini dan sikapnya sangat tegas tak kenal kompromi… karenanya mereka pun minta bukti akan kebenarannya. Namun mereka segera meralatnya dan menganggapnya sekedar main-main seperti biasa, alias tidak bermaksud menunjukkan kebenaran.

Memang, kisah ini mengandung pelajaran bahwa pabila para da’i dan ahli ibadah memandang ahli dunia sebagai orang yang main-main dan dunia sebagai tempat bermain; demikian pula ahli dunia memandang para da’i dan ahli ibadah sebagai orang yang main-main, dan agama mereka sekedar permainan. Namun Ibrahim langsung menyanggah ucapan mereka dan beralih dari memvonis mereka dengan kesesatan kepada penjelasan tentang Tuhan yang sebenarnya, tanpa mempedulikan taklid mereka sebelumnya. Beliau mengatakan: “Bukan begitu -yakni aku sungguh membawa kebenaran, bukan main-main- namun Tuhan kalian (yang sesungguhnya) ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakan keduanya, -kemudian beliau menafikan tuduhan main-main tersebut dengan mengatakan:- dan aku menjadi saksi akan hal itu” (ayat 56). (lihat: hadaaiqur ruuhi war raihan, 18/122 dengan penyesuaian).

[16]  Adapun dalam surat Az Zukhruf (ayat 26-27) Beliau ‘alaihissalaam mengatakan :

{ …إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ}

“…Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dia yang telah menciptakanku maka Dia yang akan memberiku hidayah”.

Syaikh Muhammad Amien Al Harary mengatakan bahwa setelah merenungkan dengan seksama ayat ini dengan yang di surat Asy Syu’araa’, beliau menyimpulkan bahwa penambahan huruf sin (س = akan) dalam ayat ini ialah sebagai ta’kid (penegas) karena Ibrahim tengah menyatakan sikap bara’ (berlepas diri)nya terhadap penyembahan berhala, dan hal ini sangat membutuhkan penegasan. Sedangkan yang di Asy Syu’araa’ beliau sekedar menjelaskan permusuhannya terhadap berhala hingga tidak perlu menggunakan ta’kid, wallahu a’lam (lihat: Hadaaiqur ruuhi warraihaan, 26/236).

[17]  Beliau ‘alaihissalaam sengaja menisbatkan sakit pada dirinya dan tidak mengatakan: “Pabila Allah menyakitkanku”. Ini mengisyaratkan bahwa meski penyakit juga karena takdir Allah, akan tetapi tidak seyogyanya sesuatu yang jelek disandarkan kepada Allah.

[18]  Lihat: Tafsir Asy Sya’rawi.

[19]  Idem.

[20]  Ini merupakan teladan bagi kita agar mendahulukan dzikir (puji-pujian) sebelum berdoa. Hal ini sangat berpengaruh bagi terkabulnya doa tersebut, apalagi jika doanya menyangkut keselamatan di hari pembalasan… sesuatu yang besar dan amat penting bukan? Sehingga otomatis pengaruhnya amat besar jika dikabulkan. Karenanya Beliau memohon dengan bahasa yang demikian mengesankan… (lihat: Nadhmud durar 5/370 oleh Al Biqa-’iy).

[21]  Ada juga yang menafsirkannya dengan kenabian atau hikmah (kebijaksanaan) dalam mengatur manusia (lihat: Tafsir Al Qurthuby 13/111).

[22]  Yaitu rasul-rasul yang dinilai memiliki ketabahan ekstra dan semangat luar biasa dalam berdakwah, yaitu: Nabi Nuh ‘alaihissalaam, Ibrahim ‘alaihissalaam, Musa ‘alaihissalaam, ‘Isa ‘alaihissalaam dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Lihat ayat terakhir dari surat Al Ahqaf.

[23] Yang pertama ialah Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliaulah manusia yang paling dicintai oleh Allah U dan paling mulia. Berikutnya ialah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan keduanya dijuluki khalilullah (kekasih Allah).

[24]  Artinya: Bapak para nabi, Kekasih Allah, Pemimpin yang taat dan Orang yang lurus akidahnya.

[25]  Sebagian mufassirin mengatakan bahwa beliau (Ibrahim ‘alaihissalaam) memohon ilmu baru minta diikutkan kepada orang-orang shalih ialah karena yang pertama merupakan kekuatan teoritis, sedangkan yang kedua adalah praktiknya (amal). Ilmu haruslah ada terlebih dahulu tapi tidak harus melahirkan amal, karenanya beliau minta diberi kekuatan untuk beramal; akan tapi amal tidak mungkin ada sebelum adanya ilmu. Dari sini jelaslah bahwa menuntut ilmu merupakan syarat utama menjadi orang shalih.

[26] HR. Al Hakim dan yang lainnya, beliau mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 4/59 nomor 1545.

Kata ‘ayah’ dalam konteks ini bukan berarti ayah kandung akan tetapi kakek yang paling atas.

[27]  Lihat: Hadaaiqur Ruuhi war Raihaan, 20/246.

[28]  Lihat: Al Lubab fie ‘Ulumil Kitab 15/47-48.

[29]  Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن أبي هريرة عن النبي قال ( يَلْقَى إِبْرَاهِيْمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتْرَةٌ وَغَبْرَةٌ فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ: أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِي؟! فَيَقُولُ أَبُوهُ: فَالْيَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ، فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ: يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لاَ تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الأَبْعَدِ ؟ فَيَقُولُ اللهُ تَعَالىَ: إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِيْنَ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ ؟ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيْخٍ مُتَلَطِّخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ ) صحيح البخاري – (ج 3 / ص 1223)

“Di hari kiamat, Ibrahim ‘alaihissalaam akan bertemu dengan bapaknya Azar, yang mukanya hitam legam berdebu. Ibrahim pun berkata kepadanya:

“Bukankah sudah kubilang kau jangan mendurhakaiku?!”

“Baiklah, hari ini aku takkan mendurhakaimu” jawab Azar.

Maka Ibrahim ‘alaihissalaam memohon kepada Allah: “Ya Rabbi, bukankah Engkau pernah berjanji untuk tidak menghinakanku di hari Kiamat… lantas kehinaan apa yang lebih besar dari pada melihat ayahku yang demikian jauh (dari rahmat-Mu)??”

Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan Surga atas orang-orang kafir”. Lalu dikatakan kepadanya: “Hai Ibrahim, lihatlah apa yang ada di bawahmu…”, Ibrahim pun melongok dan tiba-tiba ia melihat ayahnya berubah menjadi sejenis anjing liar berbulu lebat yang berlumuran darah… lalu keempat kakinya dipegang dan dicampakkan ke dalam Neraka” (Shahih Bukhari 3/1223).

[30]  Lihat Tafsir Al Alusi (Ruuhul Ma’ani) 19/100.

[31]  Idem, 19/101. Yang bercetak tebal adalah penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin dan lainnya; dan inilah yang dirajihkan oleh Al Alusi.

[32]  Yaitu rasa senantiasa diawasi Allah.

[33]  Lihat: Mawaqif Imaniah min Qisshah al Khalil Ibrahim ‘alaihissalaam hal 12-14, dengan penyesuaian.